Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

486 | جبهة النصرة : استهداف تجمعات الشبيحة بسيارتين مفخختين - حي العباسية - حمص

Written By Unknown on Rabu, 30 April 2014 | 17.11

(شبكة الرحمة الإسلامية) – بسم الله الرحمن الرحيم

logo JNجبهة النصرة – البيان رقم (486)
486 | جبهة النصرة: استهداف تجمعات الشبيحة بسيارتين مفخختين – حي العباسية – حمص

الحمد لله الذي وعد المجاهدين في سبيله الحسنى وزيادة، وشرع لنا تحريض المؤمنين عبادة، والصلاة والسلام على من بُعث بالسيف بين يدي الساعة، وعلى آله وصحبه أولي النهى والسيادة، أمَّا بعد؛
لقد منَّ اللهُ على عباده المجاهدين من جبهة النصرة في حمص العدية في يوم الثلاثاء 29 من جمادى الأخرى 1435هـ، الموافق لـ29-4-2014 باختراق أمني ضخم رغم القيود الكثيرة والتشديد الأمني الكبير ونقاط التفتيش والحواجز العديدة وكاميرات المراقبة، حيث تم ركن سيارتين مفخختين في الشارع الرئيسي الذاهب إلى داخل حي العباسية النصيري، فتم تفجير السيارة الأولى لتوقع الكثير من القتلى في صفوف الشبيحة إضافة إلى الأضرار المادية الضخمة، فتجمع من تجمع في المكان من أجل عمليات الإنقاذ وإسعاف الجرحى، ودبت حالة من الرعب في صفوفهم مع استنفار أمني في المكان، ولم يستفيقوا من هول الضربة حتى جاء التفجير الثاني مزلزلا أوكارهم ليشكل الضربة القاضية على من نجا من التفجير الأول حيث أن السيارتين كانتا مركونتين بطريقة توقع أكبر نكاية ممكنة في صفوفهم وليذيقوا شيئا مما أذاقوه لأهلنا، وإنّ في الجعبة الكثير للنصيرية ومن عاونهم، وسيعلم الذين ظلموا أي منقلب ينقلبون.

lagi1 lagi2 lagi3 lagi4 lagi5 lagi6 lagi7

{ وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ }

(( جَبْهَةُ النُّصْرَة ))
|| مؤسسة المنارة البيضاء للإنتاج الإعلامي ||

لا تنسونا من صالح دعائكم
والحمد لله ربِّ العالمين

تاريخ نشر البيان: يوم الثلاثاء 29 من جمادى الأخرى 1435 للهجرة، الموافق 29/ 4/ 2014


17.11 | 0 komentar | Read More

Dr. Iyad Qunaibi : Persaudaraan dalam agama atau ideologi?

Ukhuwah dalam agama atau ideologi?

Faksi-faksi yang berperang untuk tujuan yang haq dan tidak melaksanakan agenda asing, mereka adalah saudara kita. Bukanlah bagian dari agama Allah untuk menjadikan mereka sebagai sesuatu yang dipertaruhkan dan sekadar untuk menguji keyakinan mereka guna untuk mengkategorikan mereka sebagai apa. Tugas kita adalah untuk mendakwahi mereka menuju kebenaran, sehingga mereka memiliki keberpihakan terhadap agama dan ummat Muslim, serta mereka menjadi kuat dalam berkeyakinan, sehingga lebih sulit untuk diperdayai musuh.

Betapa salahnya kita, ketika kita ingin membuktikan kepada orang-orang dari golongan ekstremisme bahwa kitalah yang memiliki "ideologi murni", sehingga terbujuk musuh Islam untuk memperlakukan mereka seolah penjahat yang membutuhkan pembebasan. Apakah kebebasan mereka? Mereka itu bukan orang kafir!

Kita mengancam mereka bahwa jika kita menyaksikan setiap penyelewengan pada bagian mereka, lantas kita akan melawan mereka. Kita tidak menunjukkan kesetiaan dan kecintaan kepada mereka, karena mereka adalah muslim yang belum memiliki pengalaman sebelumnya dengan Jihad, pengetahuan atau ideologi. Mereka hidup dalam cekokan sistem informasi yang sengaja disalahkan, penuh penindasan selama berpuluh-puluh tahun. Perlu diketahui, bahwa musuh-musuh kita memancing mereka dengan uang untuk melawan kita, tetapi agama dan hati nurani mereka yang hanif mendorong mereka untuk menolak untuk menyerahkan kita kepada kaum kafir, sama seperti kita, mereka mengatakan "ya, kami ingin agama Allah menang".


Sebuah masalah muncul ke permukaan, berkenaan dengan jihad yang dilancarkan Muslimin di Suriah, baik berupa aksi turut memerangi, memberi nasihat melalui khotbah, atau mengomentarinya. Apakah kita malah mengkerangkengi tubuh Muslim sendiri lewat reaksi kita terhadap isu jihadis itu?

Kita secara tak sadar telah menjadikan Muslim "yang lain" melupakan saudara-saudara seiman di medan tempur. Kita lebih asik menyoroti penyelesaian masalah praktik "salafi jihadis", daripada memikirkan masalah Muslim lainnya, seolah mereka "ummat kelas dua"!

Kita boleh jadi percaya-tidak percaya akan isu tersebut. Pada kenyataannya, telah banyak saudara seiman kita yang meninggalkan kampung halamannya dan berkorban demi menolong Muslim "lainnya".

Namun, upaya-upaya dan ucapan-ucapan yang kita lontarkan, bernada seolah mereka yang bertempur di Suriah tidak pernah berjuang untuk ummat. Siapa kita ini? Siapa yang kita sebut "orang yang berideologi"? Ideologi apa?

Ideologi yang jelas adalah yang mengusung implementasi syari'at dan menolak demokrasi serta konstitusi buatan manusia. Kitalah yang "lain" itu.

Mereka yang semangat bertempur di Suriah adalah orang-orang awam dan kelompok tak berideologi yang berjuang atas nama pembelaan diri. Merekalah yang langsung tunduk patuh terhadap syaria'at saat diberitahu.

Mereka tidak tahu apa itu demokrasi atau sekulerisme. Mereka tidak tahu apakah mereka berjuang untuk koalisi atau kepada militer yang tidak membela Islam. Pun tidak jelas apakah mereka berjuang karena kemuslimannya atau menolong non-muslim.

Saat kita tanyakan apa ideologi mereka, mereka menjawab "ideologi apa? kami orang yang sederhana saja."

Saya tidak membaur dengan kelompok yang mengusung agenda pihak asing. Saya tidak mengekor pada kelompok yang dibentuk masyarakat internasional.

Juga tidak tunduk di bawah dukungan pemerintah dzolim yang berkuasa, dimana para komite mempropagandakan keinginan mereka untuk mendirikan sebuah negara yang kedaulatannya bukan diegakkan atas syari'at Alloh subhanahu wata'ala.

Saya tidak menyatakan bahwa pokok masalahnya adalah pengaruh kurangnya "ideologi" mereka dalam rangka penolakan atas demokrasi.

Yang saya ingin bahas disini adalah; sikap kita yang telah mengecam mereka yang menolak peradilan independen (non-syariah) dan mengklaim kebebasan negara mereka sendiri yang tergelincir dalam konflik.

Ucapan-ucapan dan khotbah-khotbah kita telah menjurus pada penyerangan terhadap mereka yang kita labeli "beridiologi murni", membagi mereka menjadi dua faksi.

Siapa yang kita bela atas kepahlawananya yang kita sanjung-sanjung, dan siapa yang kita doakan kesyahidannya dan kita mohonkan ampunan-Nya?

Lambat laun, mayoritas Muslim melupakan saudara-saudara seiman yang tertindas di Suriah dari benak kita.

Apakah Anda tahu apa yang sedang kita lakukan?

Kita membuat orang-orang Suriah merasa bahwa kita mempertengkarkan "perang kami" di "tanah kami"!

Kita sendiri dapat memastikan kekuatan kafir apa yang telah gagal menjatuhkan Islam. Adalah karena kita tidak mewakili ummat, tetapi hanya memaksakan diri bertindak mengatasnamakan ummat.

Kita telah menyia-nyiakan kesempatan yang Allah subhanahu wata'ala berikan kepada kita saat ini, yakni: mengambil keuntungan dari semangat para jihadis yang mensibghah dada orang-orang Suriah.

Hal tersebut dapat menyokong proyek pembebasan Suriah dan mendukung penerapan Islam yang mereka peluk dan yakini. Sehingga upaya mengehentikan jihad di Suriah berarti sama seperti mencabut nyawa dari tubuh seorang Muslim.

Kini kita telah membatasi gerak jihad kita dengan memberantas "ideologi tertentu" seperti semudah mencabut duri dalam daging.

Perasaan saya terluka saat di tengah-tengah kita ada yang mengedarkan berita pembunuhan salah seorang pemimpin kelompok "ideologi tertentu" dan lainnya memposting gambar teman atau saudaranya yang menyatakan "yang tewas ini juga salah bunuh," Apakah kita tidak akan turut mendoakannya? Tidak turut memenuhi haknya sebagai mayyit?"

Saat ini orang-orang harus dibangkitkan kembali kesadarannya akan ukhuwah Islamiyah, dimana darah sesama Muslim sederajat. Jika kita bersikukuh menganggap jihadis sebagai Muslim kelas dua, dibandingkan keutamaan kita, karena tidak "se-ideologi" dengan kita; maka kita akan menciptakan kebingungan pada agama ini. Niat baik dari perbuatan kita dapat berubah menjadi perbuatan buruk. Lebih merusak ummat daripada sekadar seperti memindahkan kamp saudara seiman kita ke kamp para musuh Allah.

Faksi-faksi yang berperang untuk tujuan yang haq dan tidak melaksanakan agenda asing, mereka adalah saudara kita. Bukanlah bagian dari agama Allah untuk menjadikan mereka sebagai sesuatu yang dipertaruhkan dan sekadar untuk menguji keyakinan mereka guna untuk mengkategorikan mereka sebagai apa. Tugas kita adalah untuk mendakwahi mereka menuju kebenaran, sehingga mereka memiliki keberpihakan terhadap agama dan ummat Muslim, serta mereka menjadi kuat dalam berkeyakinan, sehingga lebih sulit untuk diperdayai musuh.

Betapa salahnya kita, ketika kita ingin membuktikan kepada orang-orang dari golongan ekstremisme bahwa kitalah yang memiliki "ideologi murni", sehingga terbujuk musuh Islam untuk memperlakukan mereka seolah penjahat yang membutuhkan pembebasan. Apakah kebebasan mereka? Mereka itu bukan orang kafir!

Kita mengancam mereka bahwa jika kita menyaksikan setiap penyelewengan pada bagian mereka, lantas kita akan melawan mereka. Kita tidak menunjukkan kesetiaan dan kecintaan kepada mereka, karena mereka adalah muslim yang belum memiliki pengalaman sebelumnya dengan Jihad, pengetahuan atau ideologi. Mereka hidup dalam cekokan sistem informasi yang sengaja disalahkan, penuh penindasan selama berpuluh-puluh tahun. Perlu diketahui, bahwa musuh-musuh kita memancing mereka dengan uang untuk melawan kita, tetapi agama dan hati nurani mereka yang hanif mendorong mereka untuk menolak untuk menyerahkan kita kepada kaum kafir, sama seperti kita, mereka mengatakan "ya, kami ingin agama Allah menang".

Betapa bersalahnya kita ketika takut menyanjung saudara seiman kita. Mereka malah difitnah "ideologinya" lewat lidah-lidah bak pedang tajam yang hasad akan kebaikan mereka.

Orang-orang takut dikatai menyembah manusia karena menghargai mereka. Seolah bertalian saudara dan bertoleransi kepada mereka itu melanggar ajaran agama. Seolah-olah sedang meneladani Rasululloh shalallahu 'alaihi wasallam yang tidak memberikan banyak uang kepada non-Muslim guna mendapatkan kesetiaan mereka.

Saudara-saudara kita ini Muslim, bukan orang kafir. Mereka tidak meminta uang kita atas kesetian mereka terhadap Islam. Mereka menginginkan kalimat-kalimat yang baik dari lisan kita, apresiasi, sebuah perasaan bahwa mereka adalah saudara seiman "bagian dari kita dan ada di antara" kita.

Betapa tidak adilnya jika kita menihilkan mereka, hanya karena ingin mendapatkan pengakuan dari kaum yang tidak melaksanakan Sunnah Rasululloh shalallahu 'alaihi wasallam dalam menjalin kasih sayang dalam bermasyarakat.

Sungguh ketakutan yang sangat akut dan dzon yang kompleks, jika kita enggan mengakui perjuangan para jihadis, hanya karena takut suatu saat di masa yang akan datang mereka akan melenceng.

Dan kehati-hatian orang-orang yang menjaga lisannya dari mengakui sepak terjang jihadis sangatlah tidak masuk akal. Akhirnya kita terjebak pada pencitraan dan penjagaan reputasi baik.

Kita mengabaikan membersamai saudara-saudara Muslim yang berjihad. Bahkan kita tergoda oleh tipuan yang dihembuskan penjajah.

Kita harus mengucapkan dengan sepenuh hati bahwa "ini adalah saudara-saudara kami, kami setia kepada mereka dan kami mencintainya. Kami rasakan penderitaan mereka, dan marah jika mereka disalahkan. Kami mendoakan mereka agar syahid dan diampuni Allah. Sama seperti saat kita memanjatkan doa rabithah kepada saudara yang "seideologi".

Mereka adalah saudara kita -"orang-orang awam" yang memperjuangkan pembebasan Muslim dari penjajahan kaum kafir, yang patut lebih kita cintai dan sayangi daripada mereka yang mengaku "berideologi murni" tetapi mengehembuskan perpecahan di antara ummat.

Maka benarlah, bahwa sebuah revolusi dapat menyaring siapa di antara ummat, yang benar-benar berideologi Islam.

Untuk menciptakan revolusi dibutuhkan visi yang selaras sunnah perjuangan Rasululloh shalallahu 'alaihi wasallam. Perjuangan yang menghantarkan tegaknya Dinnullah di muka bumi. Dengannya tercegahlah ummat dari keterbelakangan sebagai buah dari memperbesar-besarkan ikhtilaf. (adibahasan/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Brunei Darussalam akan laksanakan Syariat Islam dalam fase pertama

BRUNEI DARUSSALAM (Arrahmah.com) – Sultan Brunei Darussalam telah mengumumkan Undang-undang baru berdasarkan hukum pidana Islam. Hal ini dikritik keras oleh para kafirin di badan hak asasi manusia PBB.

"Hari ini, saya menyatakan keimanan saya dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wata'ala untuk mengumumkan bahwa besok, Kamis (1/5/2014) Brunei akan menyaksikan penegakkan Syariat Islam dalam fase pertama, yang harus diikuti dengan fase lainnya," ujar Sultan Hassanal Bolkiah seperti dilansir Al Jazeera.

Syariat Islam yang dilaksanakan di Brunei akan terus diperkenalkan dari waktu ke waktu dan mencakup cambuk, potong tangan dan rajam bagi mereka yang melakukan kejahatan.

Banyak dari anggota etnis Muslim melayu menyuarakan dukungan mereka untuk perubahan tersebut. Namun, warga non-Muslim yang memimpin ledakan kritik di media sosial awal tahun ini, sebagian besar terdiam setelah sultan memerintahkan untuk berhenti.

"Teori menyatakan bahwa hukum Allah kasar dan tidak adil, tapi Allah sendiri telah mengatakan bahwa hukum itu adil," ujar Sultan.

Sultan tidak mempedulikan pernyataan kelompok HAM PBB yang mengatakan "sangat prihatin" dengan penerapan Syariat Islam di Brunei. Mereka, para kafirin mengklaim bahwa hukuman seperti rajam diklasifikasikan berdasarkan hukum internasional sebagai penyiksaan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan.

Pejabat Brunie mengatakan untuk menjatuhkan hukuman dibutuhkan bukti yang cukup dan hakim akan melihat secara luas sebelum hukuman dijatuhkan.

Sultan memperingatkan akan buruknya pengaruh asing yang merusak seperti internet dan ia terus menekankan pada Islam.

Hampir 70 persen dari penduduk Brunei adalah Muslim melayu sementara sekitar 15 persen adalah etnis Tionghoa non-Muslim. (haninmazaya/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

"Israel" menghancurkan masjid dan rumah warga Palestina di Tepi Barat

TEPI BARAT (Arrahmah.com) – Buldoser "Israel" pada Selasa (29/4/2014) dengan biadab menghancurkan sebuah masjid dan tiga rumah di kota Nablus Tepi Barat, kata seorang pejabat Palestina.

"Delapan belas jip militer "Israel" dan dua buldoser menyerbu Kherbt al-Taweel dan menyatakan desa tersebut berada dalam zona militer tertutup," Ghassan Daghlas, pejabat Otoritas Palestina yang bertanggung jawab atas administrasi pemukiman mengatakan kepada Anadolu Agency.

"Pasukan "Israel" menghancurkan sebuah masjid dan tiga rumah dengan dalih dibangun tanpa izin," tambahnya.

Pasukan "Israel" walau sudah menarik diri dari desa itu tetapi semakin memperketat keamanan di pintu masuk wilayah tersebut.

Jawdat Bani Jabr, ketua dewan desa, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa buldoser "Israel" telah menghancurkan satu-satunya masjid di Kherbt al-Taweel dan menelantarkan sebanyak 25 warga Palestina yang rumahnya telah dihancurkan.

"Israel" telah lama berusaha untuk mengontrol desa itu karena letaknya yang strategis, yang menghadap ke Lembah Yordan, tambahnya.

Lembah Yordan merupakan lahan pertanian yang luas dan subur yang menyumbang sekitar seperempat dari wilayah Tepi Barat yang diduduki. Lembah Yordan dihuni oleh hampir 10.000 warga Palestina, kebanyakan diantara mereka bekerja sebagai petani.

"Israel" telah membangun hampir 21 pemukiman Yahudi di daerah itu, dimana "Israel" memandang daerah itu sebagai zona penyangga ekonomi dan keamanan.

"Israel" ingin menjaga wilayah tersebut tetap berada di bawah kendalinya dalam upaya menekan kesepakatan perdamaian di masa depan dengan Palestina.

Rakyat Palestina menginginkan Lembah Yordan menjadi bagian dari negara masa depan Palestina.

Anwar Sidki, salah satu warga Palestina yang rumahnya dibuldoser oleh "israel" mengatakan bahwa pemerintah "Israel" tidak memberikan peringatan sebelumnya.

"Mereka langsung saja menghancurkan rumah," katanya kepada Anadolu Agency.

"Saya punya lima orang anak dan seorang istri. Saya harus membangun kembali rumah atau anak-anak dan istri saya akan tetap berada di jalan-jalan."

(ameera/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Rebut Tal Ahmar timur di pinggiran Qunaitirah, mujahidin menawan 23 tentara dan merebut banyak persenjataan

QUNAITIRAH (Arrahmah.com) – Mujahidin Islam dari berbagai kelompok jihad dalam pertempuran sengit pada hari Ahad (27/4/2014) berhasil menguasai Tal [dataran tinggi] Ahmar timur di pinggiran Qunaitirah, Shada Asy-Syam dan Masar Press melaporkan.

Tal Ahmar timur di propinsi Qunaitirah jatuh ke tangan mujahidin Islam dalam rangkaian operasi gabungan "Shada Al-Anfal" setelah dikepung selama tiga bulan penuh oleh mujahidin. Mujahidin melakukan serangan pada Ahad pagi ke puncak Tal Ahmar timur. Mereka menghancurkan beberapa kendaraan militer dan persenjataan berat pasukan rezim Nushairiyah Suriah. Pasukan Nushairiyah sendiri terpaksa ditarik mundur dari puncak Tal Ahmar timur dalam sebuah konvoi militer.

Koresponden Masar Press melaporkan langsung dari Tal Ahmar timur bahwa mujahidin melakukan penyergapan terhadap konvoi pasukan rezim Nushairiyah yang bergerak meninggalkan dataran tinggi strategis tersebut. Sedikitnya 20 tentara Nushairiyah tewas dan 23 lainnya tertawan oleh mujahidin dalam operasi penyergapan tersebut. Diantara tawanan terdapat sejumlah perwira militer.

Lebih lanjut koresponden Masar Press menyebutkan mujahidin berhasil merebut beberapa buah tank, roket anti tank, senjata ringan dan menengah serta sejumlah besar amunisi beragam jenis.

Rezim Nushairiyah Suriah merespon jatuhnya Tal Ahmar timur dengan bombardir massif mempergunakan artileri berat. Sejumlah mujahidin dilaporkan gugur dan cedera dalam serangan balasan tersebut.

Mujahidin Jabhah Nushrah, Jabhah Islamiyah, Harakah Al-Mutsanna Al-Islamiyah, Liwa' Al-Ummah, Liwa' Al-Karamah, Jama'ah Baitul Maqdis Al-Islamiyah dan sejumlah kelompok jihad lokal lainnya telah menggelar operasi gabungan "Shada Al-Anfal" di propinsi Qunaitirah.

Melalui operasi gabungan tersebut mujahidin berhasil menguasai Tal Ahmar barat yang berhadapan langsung dengan Tal Golan yang diduduki oleh penjajah "Israel". Tal Ahmar timur akhirnya menyusul dikuasai mujahidin pada Ahad (27/4).

Tal Ahmar merupakan dataran tinggi terbesar di propinsi Qunaitirah. Dengan jatuhnya Tal Ahmar barat dan Tal Ahmar timur ke tangan mujahidin maka mujahidin telah menguasai salah satu basis pertahanan militer terkuat rezim Nushairiyah Suriah. Sebab di kedua dataran tinggi tersebut ditempatkan sejumlah markas brigade, asrama militer, stasiun komunikasi dan menara militer rezim Nushairiyah Suriah.

(muhib al majdi/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Pemilu 2014 antara golput, swing voters dan politik uang

Written By Unknown on Jumat, 18 April 2014 | 17.11

Oleh : Abdus Salam (Ketua Lajnah Siyasiyah DPD HTI Sulselbar)

(Arrahmah.com) – Pemilu Legislatif 9 April 2014 selain dipenuhi berbagai persoalan politik uang sebagaimana laporan Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR). Juga dipenuhi dengan fenomena golput dan swing voters (massa mengambang). Bahkan ada sementara analisa yang mengatakan bahwa pemenang pemilu kemarin sangat ditentukan seberapa jauh mampu meraih suara dari swing voters. Meski belum ada survey pasca pemilu kemarin, berapa sebenarnya kuantitas riil swing voters. Namun cukup menjadi pertimbangan, hasil survey yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi yang mengatakan swing voters atau massa mengambang akan sangat mempengaruhi hasil pemilu legislatif 2014. Musababnya, menurut survei yang dirilis Indikator, kedekatan masyarakat dengan partai politik relatif kecil, hanya sekitar 14,8 persen. Artinya sejumlah 85,2 persen menunjukkan ketidak-dekatan masyarakat dengan partai politik relatif besar. Dan secara kasat mata, dengan melihat dan mencermati cuaca politik sekarang dimana krisis kepercayaan masyarakat cenderung tinggi pada politisi terutama anggota dewan maupun parpol, diduga menyebabkan tingginya swing voters.

Salah satu parpol yang diklaim paling sukses meraih suara swing voters adalah PDI-P. Dengan memanfaatkan daya tarik Jokowi, PDI-P disinyalir mampu mempengaruhi pengalihan suara swing voters ke arah partai berlambang banteng dengan moncong putih itu. "Pemenang pemilu adalah partai yang paling mampu mendekati swing voters," kata Burhan dalam Rilis Survei Efek Kampanye dan Efek Jokowi: Elektabilitas Partai Jelang Pemilu Legislatif 2014 di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Jumat, 4 April 2014.

Dengan kenyataan seperti di atas maka pemilu 9 April 2014 dipenuhi dengan beragam persoalan antara lain : Pertama, golput yang tinggi sejumlah 34 persen versi LSI (Lingkaran Survey Indonesia) atau sejumlah 63.172.000 orang dengan jumlah pemilih : 122.628.000 orang dari DPT (Daftar Pemilih Tetap) : 185.800.000 orang. Kedua, tingginya swing voters yang ditunjukkan di atas dasar survey Indikatornya Muhtadi dari aspek ketidakdekatan masyarakat terhadap parpol sejumlah 85,2 persen. Jika diasumsikan bahwa 85,2 persen dari jumlah pemilih setelah dikurangi dengan jumlah golput dari total DPT yakni 122.628.000 orang. Maka swing voters pada kisaran sejumlah 104.479.060 orang. Ketiga, Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) dan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) melaporkan kepada Bawaslu soal banyaknya pelanggaran saat pemungutan suara 9 April lalu, paling masif adalah politik uang (15/4/2014). Ini menunjukkan bahwa massa pemilih relatif dipenuhi oleh massa pragmatis yang dimanfaatkan oleh caleg dari berbagai latar parpol. Dengan kata lain, adanya kecenderungan pemilih memilih karena ikatan emosional di antaranya atas dorongan pemberian uang. Dan sedikit di antara pemilih memilih atas dasar dorongan kesadaran politik yang mendalam.

Sempurna sudah problem sistemik atas penyelenggaraan pemilu dengan sistem proporsional terbuka dan multipartai 9 April kemarin yang menjadi pilar pokok demokrasi. Bukan saja berbiaya sangat tinggi baik dari sumber APBN, Parpol maupun Caleg. Tetapi juga menyisakan implikasi potensi stress atau gangguan kejiwaan pada caleg yang gagal. Membangun potensi semangat korup bagi caleg yang jadi karena telah mengeluarkan duit yang sangat banyak sebagaimana rilis beberapa survey yakni sejumlah antara 300 juta s/d 6 milyar. Dan potensi inkonstitusional sandaran hukum penyelenggaraan pemilu pasca dikabulkannya judicial review Efendy Ghozali Cs.

Pemilu legislatif 9 April 2014 untuk memilih anggota legislatif yang akan mengisi DPRD 1, DPRD 2 dan DPR RI menjadi dipertanyakan urgensinya. Apalagi banyak lahir produk legislasi merugikan rakyat dan berpihak pada kepentingan asing yang nampak terlihat secara substansi di dalam isi sekitar 76 undang-undang. Termasuk mempertanyakan urgensi anggota dewan sebagai kontrol dan koreksi penguasa, jika melihat kenyataan bahwa kuantitas anggota dewan mayoritas dari parpol penguasa atau yang berkoalisi dengannya. Dimana voting (suara terbanyak) biasanya menjadi mekanisme utama pengambilan keputusan politik.

Menjadi sebuah renungan secara mendalam untuk berpikir mencari solusi sistemik atas acuan penyelenggaraan kehidupan bernegara dan berpemerintahan di tengah problem sistemik "Pemilu-Demokrasi". Berusaha keluar dari jebakan kungkungan sistem yang dianggap sudah final namun selalu menyisakan persoalan sistemik. Dan mencoba berpikir out of box dan berani merubah mindset mengganti sistem yang dipraktekkan saat ini diganti dengan sistem yang berakar dari ideologi mayoritas bangsa di negeri ini yakni Al Islam. Yakni Islam sebagai sebuah bangunan hukum dan negara yang dikenal oleh sejarah sebagai Al Khilafah Islamiyah. Wallahu a'lam bis showab. (arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Foto Jabhah Nushrah tewaskan 6 tentara rezim dan menawan 9 lainnya dalam penyergapan di pinggiran Qunaitirah

QUNAITIRAH (Arrahmah.com) – Mujahidin Jabhah Nushrah pada hari Rabu (16/4/2014) melakukan operasi penyergapan terhadap pasukan rezim Nushairiyah Suriah di dataran tinggi timur [Tal Syarqi], pinggiran Qunaitirah.

Akun resmi Jabhah Nushrah propinsi Dara'a melaporkan dalam penyergapan tersebut mujahidin berhasil menawan 9 tentara rezim Nushairiyah Suriah. Sebanyak 6 tentara rezim tewas ditembak mujahidin saat mereka berusaha untuk meloloskan diri dari penyergapan.

Propinsi Dara'a dan Qunaitirah berada di wilayah Selatan Suriah. Propinsi Dara'a berbatasan langsung dengan wilayah Yordania. Sementara itu wilayah dataran tinggi Ahmar barat, pinggiran Qunaitirah berbatasan langsung dengan wilayah dataran tinggi Jaulan [Golan] yang dijajah oleh "Israel" sejak 1967.

Bersama mujahidin Liwa' Al-Ummah, Jabhah Islamiyah dan beberapa kelompok jihad lokal lainnya, Jabhah Nushrah menggelar operasi militer besar-besaran di propinsi Dara'a untuk membuka jalan bagi pembebasan kota Nawa.

Sementara itu di propinsi pinggiran Qunaitirah, Jabhah Nushrah menggelar operasi "Peperangan Shada Al-Anfal". "Peperangan Shada Al-Anfal" merupakan operasi gabungan mujahidin Jabhah Nushrah, Jabhah Islamiyah, Harakah Al-Mutsanna Al-Islamiyah, Liwa' Al-Ummah, Jama'ah Baitul Maqdis Al-Islamiyah dan beberapa kelompok jihad lokal lainnya. Operasi militer gabungan di pinggiran Qunaitirah ini merupakan bentuk dukungan mujahidin kepada operasi gabungan "Peperangan Al-Anfal" di Lattakia.

(muhib al majdi/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Terputus dari dunia luar, warga Gaza tenggelam dalam kemiskinan

GAZA (Arrahmah.com) – Hidup sedemikian memilukan bagi keluarga Mustafa yang berjumlah tujuh orang, mereka hidup berjejalan di sebuah gubuk kumuh yang memiliki dua kamar sempit di kamp pengungsi Jabalya di Gaza.

Tujuh tahun berada dalam blokade "Israel" dan sepuluh bulan blokade Mesir yang melumpuhkan, pertumbuhan ekonomi Gaza telah mengalami krisis dan pengangguran melonjak menjadi hampir 40 persen pada akhir 2013.

Mereka hidup dari bantuan PBB yang terdiri dari beras, tepung, daging kaleng dan minyak bunga matahari, dengan akses yang terbatas ke perawatan kesehatan yang tepat atau air bersih. Keluarga seperti Mustafa - pengungsi tetap dari tanah leluhurnya yang sekarang dicaplok "Israel" - hidup dalam kemiskinan, tidak punya uang, tidak ada pekerjaan dan tidak ada harapan.

"Kami tenggelam … Kami merasa seperti seluruh dunia berada di atas kami. Saya menyalakan televisi dan saya melihat gaya hidup di luar sana, dan saya merenung, Tuhan, bantu saya meninggalkan tempat ini," kata Tareq, (22), sebagaimana dilansir oleh Wordbulletin, Kamis (17/4/2014).

Keluarga mustafa seringkali harus pindah ketika hujan membanjiri rumah mereka yang berada di dataran rendah. Mereka hidup dalam kegelapan akibat pemadaman listrik seluruh Gaza karena kekurangan bahan bakar.

"Tidak ada uang untuk kuliah atau untuk menikah. Tiadak ada uang bahkan untuk keluar rumah, sehingga kami bisa sedikit melarikan diri. Hidup macam apa ini?" Tareq bertanya.

Lebih dari setengah penduduk Gaza menerima bantuan makanan dari PBB, dan jumlahnya terus meningkat.

Badan pengungsi PBB UNRWA mengatakan kepada Reuters bahwa jumlah pengungsi yang membutuhkan bantuan pangan sebanyak 820,000 orang, atau meningkat sebanyak 40.000 dari tahun lalu. Program Pangan Dunia PBB (WFP) memberikan bantuan pangan untuk sekitar 180.000 warga lainnya.

Lebih dari 1,2 juta dari 1,8 juta warga Gaza adalah pengungsi atau keturunan mereka melarikan diri atau diusir dari tanah leluhur mereka yang dicaplok "Israel" dalam perang tahun 1948.

Beberapa dekade telah berlalu, tangan penjajah telah kuat mencengkram tanah leluhur mereka, dan lambat laun tanah leluhur mereka yang suci telah menjelma menjadi perkampungan Yahudi, dan harapan perubahan bagi warga Gaza terasa sempit seperti sempitnya gang-gang sesak di wilayah Gaza yang miskin.

Dalam hal ekonomi penduduk, barangkali tempat seperti Sierra Leone merupakan satu-satunya tempat di mana orang mengalami apa yang dialami oleh warga Gaza setiap hari.

Krisis ini meruntuhkan Jalur Gaza yang sangat rapuh, tidak hanya di kalangan warga miskin, tetapi juga bagi mereka yang sakit. Saat kesehatan dasar dan indikator ekonomi melampaui sebagian besar wilayah Afrika, meningkatnya ketergantungan terhadap bantuan dan kehidupan yang terkurung telah menelan banyak korban.

Menggerutu terhadap pemimpinan mereka yang dianggap tidak mampu adalah hal yang umum di antara warga Gaza, tapi banyak yang mengatakan bahwa warga Gaza akan tetap berada di belakang Hamas karena ketahanan kelompok tersebut.

"Seluruh dunia melawan Hamas. Mereka tentu saja bukan malaikat. Mereka juga bisa berbuat kesalahan Tetapi jika mereka pergi ke depan dan mengakui "Israel", orang-orang di sini akan meludahi mereka… Popularitas mereka akan menguap dalam semalam," kata Zakaria Shurafa, seorang sopir yang sedang mengambil jatah bantuan pangan PBB untuk keluarganya di sebuah pusat distribusi pangan yang sibuk di dekat kamp pengungsi yang berada di pinggir pantai.

(ameera/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Majelis Islam Suriah, perekat para Mujahidin

ISTANBUL (Arrahmah.com) – Majelis Islam Suriah resmi berdiri usai para ulama menggelar Muktamar di Turki 11-12 April 2014. Sebagai ketuanya, terpilih Syaikh Dr Usamah Ar Rifai.

Majelis ini terdiri dari perwakilan ulama di seluruh Suriah. Selain itu, Majelis ini juga menaungi berbagai kelompok Mujahidin dan menjadi perekat berbagai faksi jihad di Suriah.

"Dalam majelis ini, kami memiliki beberapa badan syari'at yang terpercaya di dalam kelompok-kelompok jihad. Badan-badan syariat tersebut menjadi tali penyambung antara seluruh elemen dan semoga menjadi penyebab persatuan seluruh elemen jihad, insya Allah," ujar Syaikh Usamah Ar Rifai menjawab pertanyaan wartawan Indonesia yang tergabung dalam Jurnalis Islam Bersatu (JITU) saat konferensi pers di Istanbul, Turki, Senin (14/4/2014).

Pendeklarasian Majelis Islam Suriah hasil musyawarah majelis ulama ini juga menyimpulkan beberapa hal.

Di antaranya, para ulama di Suriah menyimpulkan bahwa majelis ini ke depannya menjadi pedoman bagi rakyat Suriah untuk membentuk negara berasaskan Islam.

"Seluruh peserta dalam majelis telah bersepakat bahwa majelis ini menjadi tempat rujukan ilmiah syar'iyyah berpedoman atas Kitab dan Sunnah untuk rakyat Suriah," kata Syaikh Usamah Ar-Rifai.

Muktamar Ulama Suriah ini, selain dihadiri para tokoh dan pemimpin umat di Suriah, juga diikuti oleh sejumlah tokoh yang langsung berada dalam kancah jihad Suriah, seperti Abu Bashir At-Thartusi yang disebut-sebut sebagai representasi Jabhah Nushrah yang dekat dengan berbagai faksi jihad, serta Abul Abbas Asy-Syami—representasi faksi jihad Ahrar Syam. JITU

(azm/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Warga Palestina memperingati Hari Tahanan

GAZA (Arrahmah.com) – Warga Palestina dalam wilayah Palestina dan sekitarnya pada Kamis (17/4/2014) menandai Hari Tahanan yang ke 40 tahun di tengah seruan untuk membebaskan sekitar 5.000 tahanan di dalam penjara "Israel", sebagaimana dirilis oleh Anadolu Agency.

"Penjara-penjara "Israel" telah menjadi seperti kuburan," kata salah satu gerakan Palestina dalam sebuah pernyataan.

Pada Hari Tahanan tersebut, warga Palestina menggelar aksi unjuk rasa dan menyelenggarakan kegiatan untuk mengingatkan masyarakat internasional terhadap nasib para tahanan dan meminta perhatian mereka terhadap kondisi mengerikan dan tidak manusiawi yang dialami oleh para tahanan dalam penjara "Israel".

Sejumlah aktivis telah meluncurkan kampanye secara online dan melalui media sosial untuk meningkatkan kesadaran dunia terhadap nasib para tahanan Palestina.

Hari Tahanan pertama kali diluncurkan pada tanggal 17 April 1974, dimana saat itu terjadi kesepakatan pertukaran tahanan pertama dengan "Israel".

Sekitar 5.000 warga Palestina menderita di 22 penjara "Israel", menurut laporan terbaru oleh Pusat Studi Tahanan, LSM Palestina.

Diantara mereka termasuk 200 anak-anak dan 19 wanita, kata laporan tersebut.

Organisasi hak asasi manusia sering mengkritik otoritas penjara "Israel" atas pelanggaran hak asasi di penjara-penjara dan laporan kematian misterius dari dalam tahanan. Mereka juga mengeluh bahwa banyak orang Palestina yang ditahan dalam penahanan administratif.

Penahanan administratif adalah semacam penjara tanpa pengadilan yang memungkinkan "Israel" untuk memenjarakan warga Palestina selama enam bulan. Perintah penahanan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.


17.11 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger