Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

5 polisi Irak tewas dan 9 lainnya luka oleh serangan mujahidin di Baghdad

Written By Unknown on Jumat, 03 Mei 2013 | 17.11

BAGHDAD (Arrahmah.com) – Kepolisian rezim Syiah Irak menyatakan serangan terhadap markas kepolisian distrik Tarimiah pada Rabu (1/5/2013) malam menewaskan 5 polisi dan mencederai 9 lainnya, laporan harian Al-Sumaria News.

Sumber di kepolisian Irak menyatakan kepada harian Al-Sumaria News, "Perhitungan terakhir korban serangan bersenjata pada tadi malam terhadap markas kepolisian distrik Tarimiah, Baghdad Utara, adalah lima polisi tewas dan Sembilan polisi cedera."

Sumber itu menyatakan para polisi yang cedera telah dievakuasi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan medis.

Mujahidin Islam menyerang markas kepolisian Irak di distrik Tarimiah, Baghdad Utara pada Rabu malam. Laporan awal kepolisian Irak menyebutkan bahwa kepala kepolisian distrik Tarimiah dan empat anggotanya tewas dalam serangan tersebut. (muhibalmajdi/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Tv One kembali berulah dalam penangkapan "terorisme" di jalan Bangka

Oleh: Fajar Shadiq / Jurnalis An-Najah.net

(Arrahmah.com) – Drama penangkapan terduga terorisme kini muncul lagi di layar kaca. Namun, kali ini yang menjadi aktornya adalah dua orang yang tinggal di kontrakan dan berbisnis air isi ulang di Jalan Bangka, Mampang, Jakarta Selatan.

Kamis, 2 Mei 2013, sekira pukul 22.00. Aksi penggerebekan dan penangkapan yang dieksekusi oleh tim Densus 88 terlihat sangat heroik di layar kaca. Beberapa barang bukti yang diduga cairan kimia yang berada dalam deretan botol-botol plastik dan jerigen dikeluarkan oleh tim Densus ke depan teras rumah beserta beberapa barang bukti lainnya seperti panci, blender, kabel-kabel dan lainnya tersorot kamera berita.

Liputan eksklusif penangkapan terduga terorisme seperti biasa disuguhkan oleh TV-One. Sejak digawangi oleh Karni Ilyas, sosok yang dikenal akrab dengan Gories Mere, saluran ini banyak mendapat akses eksklusif ke dalam tubuh kepolisian, termasuk mendapat liputan khusus yang tidak didapat stasiun televisi atau media lain khususnya dalam hal perburuan menangkap teroris.

Yang membuat spesial penangkapan semalam, Kamis (02/05/13) adalah momentumnya yang bertepatan dengan  akan dilaksanakannya Aksi Solidaritas Umat Islam terhadap Muslim Rohingya yang sedianya akan dilaksanakan pada hari ini, Jumat (03/05/13) di Bundaran HI, Jakarta.

Banyak kejanggalan yang dirasakan oleh para tokoh umat Islam atas penangkapan terduga terorisme semalam. Hal ini juga dinyatakan langsung oleh Bernard Abdul Jabbar, seorang da'i dan tokoh umat Islam yang sekaligus berperan sebagai Korlap Aksi Solidaritas Rohingya. Bernard Abdul Djabbar menilai, ada upaya dari pihak keamanan dan Kedubes Myanmar untuk menggagalkan aksi umat Islam.

Hal itu dapat terlihat dari gerak cepat Densus 88 dalam menyimpulkan penemuan bahan peledak yang ada kaitannya dengan pemboman Kedutaan Besar (Kedubes) Myanmar. Bernard Abdul Djabbar menanyakan, mengapa jam 10 malam dilakukan penggrebekan, namun tiba-tiba Polisi sudah menetapkan terduga mau melakukan pengeboman Kedubes Myanmar. "Ini janggal," katanya seperti dilansir Islampos.com, Jum'at (3/5/2013).

Sementara itu, sehari sebelum aksi, pihak FUI mengaku didatangi Kapolda Metro Jaya guna memfasiltasi pertemuan dengan pihak Kedubes Myanmar. Namun, FUI menolak ajakan itu. Sebab pihak Kedubes hanya membatasi tiga orang perwakilan umat Islam dalam pertemuan, sedangkan FUI ingin datang bersama massa umat Islam.

Momentum penangkapan terduga teroris

Kejanggalan-kejanggalan dalam penangkapan terduga teroris bukan kali ini saja terjadi dalam "proyek pemberantasan terorisme di Indonesia". Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh AM Muslih di situs berita Islam voa-islam.com, ia memaparkan banyak kejanggalan dalam penangkapan terorisme yang selalu bertepatan dengan agenda atau momen besar. Misalnya dalam kasus pengerebekan terduga pelaku terror di Solo dan meledaknya sebuah bom di rumah Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara pada tahun 2011, saat itu bertepatan dengan peristiwa peringatan 10 tahun Black September, peristiwa  runtuhnya gedung WTC di AS pada 11 September 2001.

Sebelumnya tahun 2010, kesuksesan penumpasan Dulmatin oleh Densus 88 juga pas dengan suhu politik sedang panas. Hasil Pansus Century yang dikukuhkan dalam Paripurna DPR, di mana Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani pun dinilai sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Akibatnya, isu pemakzulan pun bertiup kencang

Kemudian, mundur lagi setahun sebelumnya, pada 2009, ada ledakan bom yang terjadi di hotel JW Mariott dan Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, tepat ketika pihak-pihak yang sedang mempermasalahkan jumlah kecurangan pemilu melalui saksi-saksi yang tergabung dalam timsukses JK-Win dan Mega-Pra (pada tanggal 20 Juli saksi JK-Win menolak menandatangani kesaksiannya, dan tanggal 21 Juli menyusul saksi Mega-Pra juga menolak kesaksiannya).

Jadi, tepatnya kejadian penangkapan teroris dengan adanya isu-isu besar di negeri ini bukan hanya isapan jempol belaka. Tapi, sudah berulang kali dilakukan oleh pihak-pihak yang mempunyai kewenangan.

Kejanggalan TV-One dalam Penangkapan di Jalan Bangka

Saat peristiwa penangkapan semalam, saya sempat mengikuti liputan eksklusif yang disuguhkan oleh TV-One dan menemukan adanya beberapa keganjilan-keganjilan terkait penangkapan tersebut. Siaran eksklusif yang disiarkan oleh TV-One ini dipandu oleh Ecep S. Yasa, reporter yang biasa meliput aksi-aksi terkait terorisme. Tak kurang dari 20 menit Ecep S Yasa berbicara di layar kaca untuk menjelaskan kepada pemirsa betapa berbahayanya terduga teroris yang ditangkap saat itu.

ecep s yasa

Ecep S. Yasa pada saat melaporkan reportasenya kepada pemirsa seakan sudah mengerti dan mendalami para terduga terorisme yang baru saja ditangkap. Pertama, ia sudah menjustifikasi tanpa ada pendalaman dan interogasi sebelumnya kepada para terduga yang ditangkap di Jalan Bangka bahwa para terduga ini motif aksinya dilakukan untuk solidaritas terhadap Muslim Rohingya. Bagaimana Ecep sang jurnalis, bisa lebih tahu niat dan motivasi seseorang daripada polisi yang baru saja melakukan tindak penangkapan. 

Kedua, Ecep S. Yasa sudah berani mengatakan bahwa terduga teroris yang ditangkap ini adalah bagian dari jaringan Farhan yang pada Agustus 2012 lalu dianggap melakukan aksi penembakan dan pelemparan granat di Solo. Padahal beberapa saat kemudian, Boy Rafli Amar selaku Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri di Tv One maupun di Metro TV menyatakan belum ada indikasi yang jelas bahwa terduga yang ditangkap di Jalan Bangka terkait dengan jaringan teroris yang sudah ada atau merupakan jaringan baru.

Dalam hal ini, Ecep S. Yasa telah melakukan kebohongan publik dalam melakukan tugas jurnalistiknya, ia sudah mendahului polisi dan jaksa dalam menghakimi seseorang telah terlibat dan merupakan bagian dari jaringan terorisme yang ada di Indonesia.

Demikianlah adanya, sandiwara dan proyek "pemberantasan terorisme" di Indonesia belakangan ini terlihat semakin hiperbolis dan cenderung memaksakan "fakta". Entah sampai kapan ini berakhir, yang jelas umat Islam juga tak akan tinggal diam. Jika aspirasi umat Islam seperti pada gencarnya pembubaran Densus 88 beberapa waktu yang lalu dikebiri, sementara pihak kepolisian terus melakukan kezaliman dengan melakukan rekayasa fakta, penangkapan, penindakan yang sewenang-wenang bahkan hingga pembunuhan atas muslim yang tak berdosa. Allah Swt. mesti memiliki rencana besar di balik ini. Wallahu a'lam..

 (samirmusa/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Markas kepolisian dihancurkan mujahidin, rezim Syiah Irak terapkan larangan bepergian di distrik Tarimiah

BAGHDAD (Arrahmah.com) – Sumber di kepolisian rezim Syiah Irak menyatakan pada Kamis (2/5/2013) bahwa telah diterapkan larangan bepergian di distrik Tarimiah pasca serangan bersenjata terhadap markas kepolisian distrik Tarimiah oleh lebih dari 50 "pria tak dikenal", laporan harian Irak Al-Masalah.

Serangan mujahidin pada Rabu malam (1/5/2013) itu menewaskan perwira polisi berpangkat letnan kolonel, empat polisi dan mencederai sembilan polisi lainnya. Seorang kolonel dan enam anggotanya dalam regu penjinak bom ikut tewas saat gagal menjinakkan sebuah bom yang ditinggalkan oleh mujahidin setelah mereka menguasai markas kepolisian distrik Tarimiah. Ledakan bom itu menghancurkan secara total bangunan markas kepolisian.

Sumber itu mengatakan kepada harian Al-Masalah, "Telah diterapkan larangan bepergian di distrik Tarimiah dan desa-desa sekitarnya sejak Kamis pagi. Posko-posko pemeriksaan polisi dan militer di wilayah-wilayah terdekat semakin memperketat pemeriksaan setelah lebih dari 50 pria bersenjata menyerang markas kepolisian distrik Tarimiah."

Sumber itu menjelaskan, "Lebih dari 50 pria pada Rabu malam kemarin melakukan serangan terhadap markas kepolisian distrik Tarimiah, Baghdad Utara dengan ranjau, senjata mesin dan bom. Serangan itu langsung menewaskan komandan polisi berpangkat letkol, seorang polisi lainnya dan mencederai enam polisi."

"Sebuah pasukan penjinak bom didatangkan pada Kamis pagi. Tim itu langsung memeriksa lokasi dan saat mereka bekerja untuk menjinakkan bom, tiba-tiba bom itu meledak. Ledakan itu menewaskan perwira berpangkat kolonel dalam pasukan penjinak bom," kata sumber itu kepada Al-Masalah.

Mujahidin Daulah Islam Irak dan Jama'ah Ansharul Islam semakin gencar menyerang markas-markas kepolisian dan tentara rezim Syiah Irak. Serangan-serangan mereka sangat efektif dan menimbulkan kerugian jiwa dan materi yang besar di pihak rezim Syiah Irak pimpinan PM Nouri al-Maliki yang represif terhadap kaum muslimin sunni. (muhibalmajdi/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Serangan mujahidin tewaskan perwira polisi Irak di utara Baghdad

BAGHDAD (Arrahmah.com) – Sumber di kepolisian rezim Syiah Irak menyatakan pada Kamis (2/5/2013) bahwa seorang perwira polisi tewas oleh serangan bersenjata di utara Baghdad, laporan harian Irak Al-Masalah.

Sumber itu mengatakan kepada harian Al-Masalah, "Beberapa orang tak dikenal yang bersenjata, pada hari Kamis, melepaskan tembakan dari jenis senjata berperedam suara ke arah sersan Ahmad Sadiq, anggota kepolisian di desa Situ Miah, kawasan Shulaikh, utara Baghdad. Serangan itu langsung menewaskannya di lokasi kejadian."

Usudul Kawatim adalah regu khusus mujahidin Daulah Islam Irak yang terkenal dengan operasi-operasi serangan mempergunakan pistol berperedam suara. Serangan-serangan mereka telah menewaskan banyak tentara, polisi dan pejabat rezim Syiah Irak di wilayah perkotaan Irak. (muhibalmajdi/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Gagal jinakkan bom, 1 polisi tewas dan 3 lainnya cedera di Karbala

KARBALA (Arrahmah.com) – Seorang polisi rezim Syiah Irak tewas dan tiga polisi lainnya cedera parah saat mereka mencoba untuk menjinakkan sebuah bom di pusat kota Karbala pada Kamis (2/5/2013).

Kantor Berita Irak, INA, mengutip dari sumber di kepolisian Irak mengatakan bahwa seorang polisi tewas dan tiga polisi lainnya. Mereka adalah pasukan penjinak bom yang mencoba untuk membuka rangkaian bom yang ditemukan di kota Karbala. Namun bom itu meledak dan mengenai mereka.

Mujahidin Daulah Islam Irak selama ini biasa menggunakan taktik penanaman ranjau darat dan pemasangan bom tempel. Taktik itu terbukti efektif menewaskan banyak polisi, tentara dan pejabat rezim Syiah Irak.(muhibalmajdi/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Arab Saudi ganti wakil Mentri Pertahanan, antisipasi revolusi rakyat dan Al-Qaeda?

Written By Unknown on Minggu, 21 April 2013 | 17.11

RIYADH (Arrahmah.com) – Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz Alu Sa'ud, secara resmi mengeluarkan surat keputusan pelengseran wakil Mentri Pertahanan, Pangeran Khalid bin Sultan bin Abdul Aziz Alu Saud dari jabatannya.

Kantor berita resmi Kerajaan Arab Saudi melaporkan pada Jum'at (19/4/2013) bahwa raja Abdullah menetapkan surat pemberhentian Pangeran Khalid bin Sultan dan mengangkat Pangeran Fahd bin Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman sebagai penggantinya. Surat raja yang bernomor A/144 itu dikeluarkan pada Kamis, 10 Jumadil Akhir 1434 H bertepatan dengan tanggal 18 April 2013 M.

Pangeran Fahd bin Abdullah sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan laut (KSAL) Kerajaan Arab Saudi. Ia telah mengalami kenaikan status dan saat ini berpangkat Laksamana Laut.

Pergantian Mentri Pertahanan dan wakil Mentri Pertahanan dalam jarak kurang dari dua bulan terakhir telah mengundang spekulasi tentang kondisi keamanan dalam negeri Arab Saudi. Hal itu dikaitkan dengan kemajuan yang diraih oleh mujahidin Islam di Suriah dan mujahidin Anshar asy-Syari'ah (AQAP) di Yaman.

Yayasan Media Al-Malahim, sayap media mujahidin Al-Qaeda Semenanjung Arab (AQAP) beberapa hari yang lalu telah merilis video wawancara Al-Qaeda dengan Wakil Konsulat Jendral Arab Saudi untuk Yaman yang disandera oleh AQAP, Abdullah bin Muhammad Khalifah al-Khalidi. Ini adalah kemunculan ketiga kalinya Wakil Konsulat jendral Arab Saudi dalam video rilisan AQAP.

Dalam video pertama AQAP, Wakil Konsulat Jendral itu meminta rezim Arab Saudi untuk memenuhi tuntutan mujahidin AQAP agar ia dibebaskan. Dalam video kedua AQAP, Wakil Konsulat Jendral itu meminta sukunya dan masyarakat Arab Saudi untuk menekan rezim demi pembebasan dirinya.

Dalam video ketiga AQAP, Wakil Konsulat Jendral itu melemparkan "bom waktu" kepada rezim Arab Saudi. Rezim Arab Saudi terbukti enggan membebaskan dirinya dan memilih mengirim pesawat tempur untuk  membombardir mujahidin AQAP di Yaman Selatan. Maka dalam video ketiga AQAP, Wakil Konsulat Jendral itu menegaskan bahwa "rezim Arab Saudi bertujuan membunuh dirinya, agar terbebas dari tanggung jawab pembebasan sandera dan menutup mulut dirinya untuk tidak membongkar lebih jauh kebiadaban rezim Arab Saudi."

(muhibalmajdi/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Puluhan warga Suriah kembali gugur dalam serangan brutal tentara Assad

DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sedikitnya 69 orang telah gugur dalam pertempuran empat hari antara mujahidin Suriah melawan pasukan pemerintah diktator Assad di Jdaidet al-Fadl dekat Damaskus, lansir AFP pada Sabtu (20/4/2013).

"Pasukan Rezim berusaha untuk merebut kontrol seluruh kota Jdaidet al-Fadl di barat daya Damaskus, lapor Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.

"Enam puluh sembilan orang tewas dalam kekerasan yang berkecamuk di sana selama empat hari terakhir," tambah pengawas yang berbasis di Inggris, mengutip aktivis di lapangan, yang mengatakan banyak yang tewas dalam pemboman dan juga eksekusi oleh tentara brutal Assad.

Pertempuran juga berkobar di daerah Sunni dekat kota Jdaidet Artuz.

Dua kota itu teletak dekat Daraya, wilayah pertempuran sengit yang terjadi selama beberapa bulan.

Daraya menjadi sasaran tank dan serangan roket pasukan brutal Assad, dan bentrokan baru terjadi pada pagi hari di front selatan dan barat.

Ia menambahkan bahwa pasukan rezim telah mengerahkan bala bantuan termasuk 30 tank dan kendaraan militer ke kota itu.

Sejak tahun lalu, militer Suriah telah berusaha untuk menyerang mujahidin yang diposisikan di barat daya dan timur laut Damaskus, dengan klaim dalam upaya untuk mengamankan ibukota.

Sementara itu, seorang wanita dan tiga anak-anak gugur dalam penembakan yang dilakukan oleh tentara Assad di kota Kharita di provinsi timur Deir Ezzor dari, kata Observatorium.

Dan di provinsi tengah Homs, pasukan rezim menguasai desa Radwaniyeh dekat kota yang dikuasai mujahidin Qusayr, kata kelompok tersebut.

Baku tembak sengit antara mujahidin dan pasukan rezim syiah nushairiyah, milisi pro-rezim dan pasukan "Hizbullah" yang setia kepada Syiah Libanon, juga dilaporkan di beberapa daerah di sekitar Qusayr dekat perbatasan dengan Lebanon, tambahnya.

Kekerasan pada hari Sabtu kemarin terjadi sehari setelah sedikitnya 157 orang kehilangan nyawa di seluruh Suriah, kata Observatorium.

Dari 157 orang yang gugur tersebut, 75 diantaranya merupakan warga sipil. Sementara 44 mujahidin dilaporkan, insyaAllah, syahid. (banan/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

KAMRA serukan ormas dan media Islam bantu advokasi muslim Rohingya

JAKARTA (Arrahmah.com) – Ketua Komite Advokasi untuk Muslim Rohingya Arakan (KAMRA), ustadz Bernad Abdul Jabar menyampaikan bahwa setelah dua bulan dibentuk, KAMRA telah melakukan upaya nyata untuk membantu pengungsi muslim Rohingya.

Diantaranya, KAMRA telah mengupayakan agar  para pengungsi yang berada di Aceh Besar tidak dideportasi ke negara asalnya, Myanmar.

"Selama satu minggu saya berada di Aceh, kita meminta kepada Pemda Aceh untuk tidak mendeportasi Muslim Rohingya yang terdampar di Pulau Aceh sebanyak 120 orang," kata ustadz Bernad Abdul Jabar dalam rapat ijtimak Forum Umat Islam (FUI) dalam rangka membahas solidaritas untuk Muslim Rohingya di markas syariah FPI, Petamburan, Jakarta Pusat, Jum'at (19/4/2013).

Hal itu disepakati Bupati Aceh Besar, Mukhlis Basyah dalam negosiasi bersama Ketua KAMRA ustadz Bernad Abdul Jabar. Kini, para pengungsi pun telah dipindahkan ke tempat yang layak. Selain itu KAMRA juga memberikan bantuan kepada para pengungsi sebesar 15 juta rupiah.

Ke depan, KAMRA akan mengupayakan usaha kongkrit guna memperjuangkan dan membela kaum muslimin Rohignya yang tertindas, diantaranya:

  1. Mengumpulkan dana untuk membantu Muslim Rohingya.
  2. Membuat berbagai pernyataan yang mengungkap penindasan terhadap Muslim Rohingya.
  3. Memberitakan secara update kondisi terkini Muslim Rohingya.
  4. Menggelar aksi solidaritas untuk Muslim Rohingya
  5. Membuat rumah singgah bagi para pengungsi Muslim Rohingya di berbagai tempat.

Menurut ustadz Bernad, pengungsi Rohingya kian lama kian bertambah dan harus segera mendapat penanganan. Untuk itu ia meminta kepada seluruh ormas-ormas Islam termasuk, lembaga sosial dan media-media Islam agar turut membantu dan mendukung usaha KAMRA dalam rangka membantu Muslim Rohingya.

"Kalau ini tidak didukung oleh Ormas-ormas Islam, lembaga-lembaga Islam yang lainnya maka ini tidak akan berjalan. Selama ini aksi peduli Suriah sudah ada, kemudian peduli Palestina juga sudah ada, Rohinya ini yang mendem,padahal jaraknya lebih dekat dengan kita," tuturnya.

 (voai/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Habib Rizieq Syihab: Solusi genocide muslim Rohingya adalah jihad!

JAKARTA (Arrahmah.com) – Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq Syihab menegaskan bahwa solusi bagi Muslim Rohingya yang kini ditindas di Myanmar tidak lain, harus dengan berjihad.

Hal ini disampaikan Habib Rizieq Syihab dalam ijtimak Forum Umat Islam (FUI) dalam rangka membahas solidaritas untuk Muslim Rohingya.

"Penyelesaian Rohingya ini kalau tanpa jihad sudah tidak bisa. Mereka sudah sekian puluh tahun ditindas, dibunuh, terjadi genocide. Dan PBB pun mengakui kalau di sana terjadi genocide," kata Habib Rizieq Syihab di markas syariah FPI, Jum'at (19/4/2013).

Ia mengungkapkan bahwa jumlah penduduk Muslim Rohingya di Myanmar terus berkurang. Hal ini lantaran upayagenocide terus dilakukan terhadap mereka.

"Dari empat juta warga muslim Arakan kini tinggal sekitar delapan ratus ribuan. Yang jadi pengungsi, ada yang dipenjara, dibunuh, diusir. Jadi genocide ini memang berjalan," ungkapnya.

Maka, bila upaya genocide ini terus dibiarkan Muslim Rohingya akan musnah dari Myanmar.

"Kalau dibiarkan genocide ini akan benar-benar memusnahkan warga Muslim Rohingya. Artinya mereka terhapus dari bumi Myanmar, mereka terusir dan ini terus berlangsung," imbuhnya.

Oleh sebab itu, Habib Rizieq Syihab menyerukan agar kaum Muslimin di belahan bumi manapun untuk membela Muslim Rohingya.

Sementara kepada kaum Muslimin Rohingya, ia menyerukan agar terus berjihad fi sabilillah.

"Maka itu kita sudah sampaikan kepada tokoh-tokoh mereka, tidak ada jalan lain kecuali saudara-saudara kita di sana harus berjihad," tandasnya.

 (voai/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Mertua Tamerlan tak menduga menantunya dituduh meledakkan bom Boston

KINGSTOWN (Arrahmah.com) – Keluarga Katherine Russell, istri dari Tamerlan Tsarnaev yang dituduh AS sebagai salah satu tersangka peledakan bom maraton Boston, mengeluarkan pernyataan singkat pada Jumat (19/4/2013) malam kepada wartawan di luar rumah mereka di Kingstown Utara, RI.

Russell menikah dengan Tamerlan Tsarnaev, yang ditembak polisi AS pada Jumat pagi. Ia memiliki seorang putri setelah menikah dengan Tamerlan beberapa tahun yang lalu.

Keluarga Rusell sangat terkejut dan ketakutan mendengar kabar bahwa Tamerlan dituduh sebagai pelaku bom Boston dan ditembak mati oleh polisi. Mereka menyampaikan, "Putri kami telah kehilangan suaminya saat ini, ayah dari anaknya. Kami sulit memahami awal bagaimana tragedi mengerikan ini terjadi."

Mereka meminta untuk tidak diganggu dalam masa sulit ini. Keluarga Russell mengakhiri hari dengan wartawan mengetuk pintu mereka. Mereka memulai hari dengan mobil polisi berhenti di depan rumah mereka.

Seorang tetangga yang tinggal di seberang jalan mengatakan bahwa ia melihat mobil polisi diparkir di depan rumah keluarga Russell pada Jumat pagi, termasuk mobil polisi negara.

Paula Gillette (59) mengatakan bahwa salah satu orang di sana terlihat seperti agen FBI yang mengenakan rompi antipeluru. (banan/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger