Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Sedikit demi sedikit pasukannya tewas, Perancis akan tarik pasukan dari Mali mulai awal April mendatang

Written By Unknown on Kamis, 07 Maret 2013 | 17.11

TIMBUKTU (Arrahmah.com) – Presiden negara penjajah Perancis, Francois Hollande mengatakan ia akan mulai menarik pasukannya dari Mali mulai bulan April mendatang.

Perang Perancis di Mali utara akan berakhir bulan Maret dan awal April sedikit demi sedikit pasukan Perancis akan kembali ke negara mereka dan tentara Afrika akan mengambil alih "keamanan" dari pasukan Eropa, ungkap Hollande pada Rabu (6/3/2013) seperti dilaporkan Press TV tanpa menyebutkan alasan penarikan pasukannya secara mendadak.

Sementara itu menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor Hollande, seorang sersan dari Resimen Artileri Afrika ke-68 telah tewas pada Rabu (6/3) dalam sebuah pertempuran dengan Mujahidin Mali di kota Gao.

Sekitar 4.000 tentara teroris Perancis telah disebar di Mali utara sejak 11 Januari untuk melancarkan perang melawan Mujahidin Mali yang menguasai wilayah Mali utara.

Perang Perancis di Mali telah menyebabkan krisis kemanusiaan serius di wilayah utara dan memaksa ribuan penduduk melarikan diri dari rumah mereka.  Saat ini mereka hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan.

Amnesti Internasional pernah mengeluarkan laporan yang memperlihatkan pelanggaran hak asasi manusia oleh Perancis termasuk pembunuhan anak-anak di bawah umur selama perang yang dilancarkan Perancis di Mali utara.  Mereka menjadi korban dalam serangan udara pengecut yang dilakukan oleh pasukan teroris Perancis. (haninmazaya/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Sekolah di Jerman kekurangan guru Pendidikan Agama Islam

NORTH RHINE-WESTPHALIA (Arrahmah.com) – Kurangnya guru dan materi Pendidikan Agama Islam yang tepat menghambat upaya untuk memberikan pendidikan agama bagi siswa Muslim di Jerman. "Tapi apa jalan keluarnya?" Sylvia Lohrmann, menteri pendidikan dari Rhine-Westphalia Utara (NRW), mengatakan kepada Deutsche Welle pada Rabu (6/3/2013).

Ada hampir 100.000 siswa Muslim di sekolah-sekolah dasar di NRW, negara bagian Jerman yang paling padat penduduknya. Namun, hanya ada 2000 guru yang mengajar Agama Islam.

NRW telah memasukkan pendidikan agama Islam dalam kurikulum tahun ajaran ini dan menjadi negara Jerman pertama yang mengambil langkah tersebut. Namun awal program ini sudah lemah karena kekurangan guru pendidikan Islam.

Lebih buruk lagi, kursus untuk pelatihan guru dalam studi Islam di universitas-universitas Jerman baru saja dimulai. Para lulusan pertama dari University of Munster akan belum siap sampai musim semi 2017.

Mencoba untuk memecahkan masalah ini, kementerian pendidikan NRW menawarkan program khusus untuk melatih pendidik pada studi agama Islam. "Di sisi lain, Muslim yang terdaftar dalam program studi Islam sedang dilatih untuk mengajar pelajaran agama," kata Mouhanad Khorchide, dari University of Munster.

Selain itu, kurangnya materi agama yang sesuai merupakan masalah yang lebih rumit. "Ada buku untuk kelas lima dan enam, tapi tidak ada cukup materi untuk tingkat yang lebih tinggi," kata Aziz Fooladvand, yang mengajar di Bonn, kepada Deutsche Welle. "Saya memilih sendiri topik untuk semua tingkat kelas, tapi itu membutuhkan banyak waktu dan usaha." Dia mengeluh bahwa tidak ada silabus yang cocok untuk kelas atas.

Meskipun menghadapi masalah-masalah ini, masih ada optimisme bahwa pendidikan agama yang sesuai akan dapat diberikan kepada para pelajar Muslim di Jerman. "Hal ini dipandang sebagai tanda diakuinya Islam dan umat Islam sebagai warga yang setara di negara ini," katanya.

Tiga negara Jerman baru-baru ini mengakui kelompok Muslim sebagai badan keagamaan resmi, membuka jalan bagi umat Islam untuk menyediakan pelajaran agama di sekolah-sekolah mereka sendiri.

Terdapat antara 3,8 sampai 4,3 juta Muslim di Jerman, yang membentuk sekitar 5 persen dari dari total populasi 82 ​​juta. Jerman telah menentang kehadiran umat Muslim baru-baru ini, dengan perdebatan sengit mengenai imigrasi Muslim ke negara itu. Sebuah jajak pendapat terbaru oleh University of Munster menemukan bahwa warga  Jerman memandang warga Muslim lebih negatif daripada tetangga-tetangga Eropa mereka.

Harian Jerman  Der Spiegel menyebutkan pada Agustus tahun lalu bahwa negara ini menjadi tidak toleran terhadap minoritas Muslimnya. Menurut sebuah jajak pendapat nasional 2010 oleh lembaga penelitian Infratest-Dimap, lebih dari sepertiga dari responden lebih memilih "Jerman tanpa Islam." (banan/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Pengungsi Suriah sulit mendapat pekerjaan di Libanon

TRIPOLI (Arrahmah.com) – Jumlah pengungsi Suriah sejak dua tahun lalu telah mencapai angka satu juta. Mereka mengungsi dengan membawa trauma, tanpa harta, dan kehilangan para kerabatnya.

"Situasi ini sangat buruk bagi kami," kata Bushra (19), seorang ibu dari Suriah, kepada Reuters pada Rabu (6/3/2013), di pusat pendaftaran pengungsi utama Libanon di kota utara Libanon Tripoli.

"Kami tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Saya tinggal bersama 20 orang dalam satu ruangan. Kami tidak dapat menemukan rumah lain karena terlalu mahal," kata ibu dua orang anak itu, yang terdaftar sebagai salah satu dari jutaan pengungsi Suriah.

Sekitar setengah dari jumlah pengungsi adalah anak-anak, sebagian besar dari mereka berusia di bawah 11 tahun, dan angkanya meningkat setiap minggu. Sebagian besar rakyat Suriah mengungsi ke Libanon, Yordania, Turki, Irak dan Mesir, dan sebagian lainnya ke Afrika Utara dan Eropa.

Para pengungsi Suriah mulai keluar dari negara mereka sudah sejak hampir dua tahun yang lalu ketika pasukan rezim brutal Assad menembaki para demonstran yang menginginkan revolusi. Sejak saat itu perlawanan menentang rezim nushairiyah semakin meluas. Sekitar 70.000 orang diperkirakan telah tewas.

Hal yang menambah penderitaan para pengungsi Suriah ialah mereka tidak dapat menemukan pekerjaan di negara tuan rumah untuk memberi makan anak-anak mereka. "Saya sudah mencari pekerjaan (di Libanon) tetapi tidak mendapatkannya," kata Ghasssam Mahmoud, seorang mekanik, kepada Reuters.

Mahmoud mengungsi dengan membawa dua istri dan 12 anak-anaknya dari provinsi Libanon utara Akkar ke pusat pendaftaran pengungsi di Tripoli setelah gagal mencari pekerjaan. "Ketika tiba di sini, saya langsung mencari pekerjaan," kata Mahmoud, yang mengungsi dari Khan Sheikhoun di provinsi Idlib. Terdapat beberapa ratus keluarga, sebagian besar wanita dan anak-anak juga duduk di belakang Mahmoud menunggu pendaftaran pengungsi.

Libanon adalah negara yang berpenduduk hanya empat juta orang. Libanon merupakan negara dengan jumlah pengungsi Suriah tertinggi. Kedatangan pengungsi Suriah ke negara ini telah mencapai 4.400 orang per hari dalam tiga minggu terakhir. (banan/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Demi bubarnya Densus 88

Oleh :

Abu Zahro (Salah Satu Aktifis Gerakan islam di Indonesia)

(Arrahmah.com) – Di tengah menguatnya tuntutan pembubaran Densus 88 yang dipicu di antaranya video kekerasan dan kebiadaban Densus 88 di berbagai media online, memunculkan banyak pertanyaan tentang bagaimana dan apa yang akan dilakukan nanti setelah densus 88 dibubarkan. Informasi ini penting untuk memahami bagaimana anatomi pengambilan keputusan di negeri muslim –seperti Indonesia ini- yang sudah mengokohkan dirinya sebagai bagian dari proyek GWOT (Global War On Terrorism) di bawah pimpinan AS dan sekutu-sekutunya (baca = Kafir Muharibban Fi'lan). 

Selain video kekerasan dan kebiadaban itu, banyak juga data yang ditemukan tentang ekstra judicial killing (pembunuhan tanpa mekanisme pengadilan) dan ekstra judicial action yang dilakukan oleh densus 88. Berbagai kekerasan demi kekerasan oleh densus 88 untuk menangani apa yang disebut dengan "terrorism" akan memunculkan siklus kekerasan yang tidak pernah berkesudahan. Treatment kebijakan seperti itu tidak akan menyelesaikan dan menuntaskan akar persoalan.

Kecuali dibuka ruang dialog terbuka untuk menguak apa yang sebenarnya menjadi akar munculnya terorisme. Apalagi jika para petinggi densus 88 yang sekarang berkuasa menentukan kebijakan lembaga ini berasal dari orang-orang yang membenci Islam dan senantiasa mengobarkan perang melawan Islam seperti Gorris Merre, Petrus Golosse dan Ansyaad Mbai.

Selain eksistensi orang-orang itu, keberadaan lembaga ini juga sebagai bagian dari kontruksi pelembagaan berdasar atas legal of frame semisal UU Terorisme dan UU Pendanaan Terorime serta perundang-undangan yang lain di Indonesia untuk memasifkan dan meligitimasi GWOT.  Lengkap sudah, GWOT di Indonesia ditopang oleh legal of frame (UU Terorisme, UU Pendanaan Terorisme dll), lembaga yang menjalankan amanah UU itu (BNPT dan Densus 88), dan orang-orang pembenci Islam yang menentukan kebijakan pada lembaga itu.

 

Skenario Pasca Densus 88 dibubarkan

Video kekerasan dan kebiadaban Densus 88 yang diupload di berbagai media online dan memicu desakan pembubaran, akan memunculkan 2 reaksi yang bertolak belakang. Pertama, video itu akan memantik semakin menggeloranya semangat perlawanan kaum muslimin terhadap simbol-simbol kedhaliman dan kesewenang-wenangan lembaga yang menjadi representasi proyek GWOT nya AS dan sekutu-sekutunya  di Indonesia (BNPT dan Densus 88).  Kedua, di lain pihak bagi penentu kebijakan di Indonesia – yang sudah terlanjur kontrak proyek GWOT –  akan berpikir keras untuk tetap mempertahankan secara fungsional maupun struktural keberadaan lembaga itu (densus 88) dengan cara formal maupun dengan cara non formal (baca = operasi intelijen).

Kompolnas menyampaikan bahwa bubarkan densus 88 sama dengan bubarkan Polri (Metro TV, 04 Maret 2013). Beberapa pihak yang tetap menghendaki keberadaan lembaga ini secara struktural dan formal sebut saja PBNU yang diwakili oleh petingginya  Ketua PBNU, H. Iqbal Sullam dan segelintir anggota dewan (DPR RI).  Dengan dalih, bahwa densus 88 tidak perlu dibubarkan tetapi hanya butuh evaluasi kinerja sampai dengan dalih apresiasi bahwa lembaga ini telah melakukan kinerja yang bagus dan perlu eksistensi yang kontinyu untuk menangani ancaman terorisme jangka panjang.  

Yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan jika penentu kebijakan menggunakan cara untuk mempertahankan eksisting densus 88 secara struktural (kelembagaan) dengan cara-cara non formal (baca = operasi intelijen). Dengan memanfaatkan potensi perlawanan yang menggelora atas kedhaliman dan kekerasan densus 88 serta mengaitkan dengan jaringan veteran mujahidin Afghanistan, Moro dll di Indonesia beserta organ-organ/kelompok-kelompok yang disinyalir memiliki sindikasi, akan didesain sebuah "momentum besar" yang diprediksikan berimplikasi opini media meluas. "Momentum besar" itu akan diperkuat oleh blow up rekayasa opini media yang semakin mengokohkan dan meligitimasi bahwa densus 88 masih dibutuhkan eksistensinya baik secara kelembagaan maupun fungsional.  Atau mungkin juga dilakukan "operasi pengambangan". Yakni membuat dikotomi antara kelompok yang mendesak pembubaran densus 88 dengan dimunculkannya pihak-pihak atau kelompok-kelompok yang tidak setuju atas pembubaran. Jika diperlukan dilakukan "operasi adu domba".  Seperti dimunculkannya varian Islam Moderat dan Islam Radikal/Islam Fundamentalis.

Seperti juga menghadap-hadapkan ormas Islam besar NU dengan Muhammadiyah.  Muhammadiyah dan MUI beserta ormas-ormas Islam lainnya sepakat dibubarkannya densus 88. Sebaliknya, PBNU menolak pembubaran. Dibiarkan dalam perdebatan pro kontra "perlu atau tidaknya dibubarkannya densus 88 secara berkepanjangan". Lambat laun semakin lama sampai dengan akhirnya berujung dengan ketidak jelasan status perlu atau tidaknya dibubarkannya densus 88. Seolah terjadi "proses alamiah" pemandulan dan penumpulan menguatnya desakan pembubaran densus 88.  Dalam bentuk memandulkan semangat perlawanan terhadap proyek GWOT ala AS (Kafir Muharibban Fi'lan).

Perang melawan proyek GWOT ala AS ini sebagai bagian membongkar makar pemerintahan thogut yang menjadi antek para penjajah kafir muhafibban fi'lan yang semakin tinggi tensinya, akan diperlemah sehingga pada akhirnya akan terjebak ke dalam skenario berkepanjangan proses pengambilan keputusan politik yang sarat dengan bargaining kepentingan untuk mereevaluasi UU Terorisme. Sebuah undang-undang yang menjadi sandaran  ala thogut keberadaan densus 88.

Pasca kedatangan Din Syamsudin bersama MUI beserta ormas-ormas Islam dengan membawa data-data kekejaman dan kebiadaban densus 88 sekaligus menyampaikan desakan pembubarannya beberapa hari yang lalu kepada Kapolri Timur Pradopo, dalam jangka waktu dekat akan dilakukan cross investigasi ke Poso oleh Komnas HAM bersama perwakilan ormas-ormas Islam. Hasil cross investigasi itu akan menjadi masukan penting kepada Kapolri untuk merekomendasikan eksistensi densus 88. Wacana rekomendasi  untuk pembubaran densus 88 bergulir dan berkembang. Ada yang mengusulkan bahwa densus 88 masuk menjadi bagian dari reskrim atau brimob. Ada juga yang mengusulkan sebagai bagian dari tambahan fungsional atas organ Polri yang sekarang ini ada.

Pada intinya wacana itu menunjukkan bahwa secara kelembagaan densus 88 bisa jadi pada akhirnya menjadi tambahan fungsional dari organ yang sudah ada di dalam tubuh Polri. Sebuah fungsi yang dulu jaman Orde Baru pernah dijalankan secara "luar biasa" oleh saudara tua Polri yakni TNI. Dulu TNI memainkan peran dominan. Sekarang Polri yang mengambil alih peran dominan itu. Seperti sebuah permainan bola seolah ada kesan bola yang sekarang dimainkan oleh Polri sudah terlalu banyak kesalahan "operan" dan "akut".

Saatnya harus dioperkan kepada pemain lama –TNI- yang lebih berpengalaman dan kredibel. Ini nampak begitu intensnya Kemenhan RI mengusung RUU Kamnas. Di dalamnya ada legitimasi keberadaan sebuah lembaga yang dinamakan DKN (Dewan Keamanan Nasional). Sebuah lembaga yang jaman Orba dulu menjadi organ yang menggurita mengendalikan sistem Kopkamtib dengan Sishankamrata (Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta). 

Siapapun yang memainkan bola itu tidak pernah merubah urgensi bahwa permainan bola itu sudah masuk terlalu jauh ke dalam sebuah skenario proyek besar yang dinamakan GWOT (Global War On Terrorism) yang pada hakekatnya adalah GWOI (Global War On Islam/Perang Global melawan Islam). Sebuah perang global yang didiktekan oleh Kafir Muharibban Fi'lan AS-sekutu-sekutunya bertujuan untuk membungkam dan meredam semangat perlawanan kaum muslimin seluruh dunia. Yakni perlawanan kaum muslimin baik dengan jalan Al Jihad maupun dengan jalan pemikiran dan politik. Termasuk semangat perlawanan kaum muslimin di Indonesia.

 

Bagaimana Gerakan Islam menyikapi

Pertama, Seluruh gerakan islam memerlukan koordinasi alamiah mengikuti petunjuk sebaik-baik makar adalah makar Allah SWT. Kedua, Media-media Islam khususnya media-media online Islam harus terus menghangatkan makar-makar pemerintahan thogut ini. Yakni dengan cara menunjukkan betapa biadabnya rezim yang menjalankan sistem thogut ini terhadap rakyatnya sendiri.

Berbagai temuan data dan fakta kekejaman-kebiadaban densus 88 harus dikuak secara kontinyu. Seperti secara intens, mengungkap kebiadaban Rezim Bashaar Asaad kepada rakyatnya sendiri di Suriah meski dengan kuantitas dan kualitas yang berbeda. Ketiga, gerakan islam ideologis yang menjadikan pemikiran dan politik sebagai manhaj perjuangan, harus melakukan aksi massa yang masif untuk memperkuat dan mengawal opini bobroknya sistem dan rezim thogut ini melalui pintu masuk "tuntutan pembubaran densus 88″. 

Sebagai follow up yang telah dilakukan oleh MUI, Muhammadiyah berserta ormas-ormas islam yang lain. Aksi massa yang berskala nasional di Indonesia itu harus dilakukan secara masif dan optimal. Aksi massa itu sekaligus sebagai momentum penyadaran ummat tentang penting dan wajibnya penerapan syareat secara kaffah di tengah problema sistemik yang mendera negeri ini.  Sebuah penyadaran umat untuk menolak semua undang-undang buatan manusia yang berpihak kepentingan asing dan merugikan umat. Termasuk UU Terorisme, UU Pendanaan Terorisme dan UU lainnya yang menjadi legal of frame masifnya GWOT.

Keempat, mendorong aktifis-aktifis islam yang :  konsen terhadap persoalan ini, memahami anatomi persoalan intelijen dan kontra intelijen, serta memahami anatomi proses pengambilan keputusan politik apa yang menjadi produk kebijakan atas tuntutan pembubaran densus 88. Aktifitas-aktifis islam itu menjadi "pressure group" atas kebijakan-kebijakan yang merugikan umat sekaligus sebagai pemberi kabar bagaimana sebenarnya konstelasi pengambilan keputusan oleh rezim yang menerapkan sistem thogut ini menyikapi persoalan ini.

Kelima, seluruh gerakan Islam harus menyiapkan segala kemungkinan jika terjadi invasi militer AS dan sekutu-sekutunya  yang disebabkan oleh revolusi sosial sewaktu-waktu di Indonesia yang menuntut ganti rezim dan sistem thogut dengan rezim dan sistem Islam. Meski kans ini sangat kecil kemungkinannnya karena Indonesia termasuk kategori daerah yang bisa ditaklukkan oleh Kafir Muharriban Fi'lan tanpa dengan invasi militer. Kecuali rezim ini semakin represif dalam setiap produk kebijakannya. Dan senantiasa melahirkan produk-produk kebijakan yang merugikan rakyatnya maka kondisi-kondisi itu cepat atau lambat akan melahirkan akumulasi ketidak puasan berkepanjangan yang sudah pasti akan menimbulkan revolusi sosial yang luar biasa.

Keenam, mendorong tokoh-tokoh umat untuk saling memperkuat opini melalui statement-statement pembelaan terhadap kepentingan umat islam dan terlibat dalam pengarus tamaan penting dan wajibnya penegakkan syareah kaffah ke dalam bingkai khilafah islamiyah ala minhajin nubuwah. Ketujuh, memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan Nashrullah-Nya. Wallahu 'alam bis showab. (Dari Bumi Pergolakan dan Musibah/Abu Zahro).


17.11 | 0 komentar | Read More

Mujahidin Jaisyul Adl berjihad melawan rezim Rafidhah Iran

SISTAN-BALUCHISTAN (Arrahmah.com) – Kelompok Jaisyul Adl (Army of Justice) adalah kelompok jihad kaum muslimin Ahlus Sunnah wal jama'ah di Iran secara umum dan kawasan Baluchistan yang dijajah rezim Raidhah Iran secara khusus.

jaisy adl iran

Kelompok mujahidin Jaisyul Adl berdiri pada tahun 2009 M setelah rezim Rafidhah Iran menangkap dan membunuh komandan mujahidin, asy-syahid Abdul Malik Rieghi. Mujahidin Jaisyul Adl mencakup para mujahidin dan komandan terdahulu dari kelompok mujahidin Jundullah, termasuk amir dan komandannya Syaikh Muhammad Zhahir Al-Balusyi, demikian pernyataan kelompok ini dalam akun resmi mereka.  

Mujahidin Jaisyul Adl Iran

Mujahidin Jaisyul Adl Iran

Dalam pernyataannya, kelompok mujahidin Jaisyul Adl menegaskan berjihad untuk merealisasikan beberapa tujuan:

1.  Meninggikan panji tauhid Laa Ilaaha Illa Allah Muhammad Rasulullah, menjadikan kalimat Allah sebagai kalimat tertinggi dan menjadikan kalimat orang-orang musyrik sebagai kalimat terendah di muka bumi.

2. Mengeluarkan semua bentuk dan fenomena kesyirikan dari bumi Baluchistan yang dijajah oleh rezim Rafidhah Iran. Mujahidin tidak ridha sedikit pun dengan tempat-tempat ibadah kesyirikan (Husainiyah) di bumi Baluchistan dan tidak akan tinggal diam dengan pemaksaan agama Syiah Rafidhah oleh rezim Rafidhah Iran.

3. Melemahkan dan menyerang kekuatan militer rezim Rafidhah Iran di seluruh wilayah Baluchistan.

4. Mujahidin meyakini bahwa semua negara Islam adalah Negara milik kaum muslimin, sekalipun jarak antar negara tersebut berjauhan. Peperangan mujahidin Jaisyul Adl melawan rezim Rafidhah Iran bukanlah bertujuan mengembalikan hak-hak rakyat muslim Baluchistan yang dirampas oleh rezim Rafidhah Iran belaka. Namun juga untuk menolong dan membela saudara-saudara dan saudari-saudari muslim (ahlus sunnah wal jama'ah)  di Suriah, Yaman, Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan negara-negara lainnya yang mendapat serangan rezim Rafidhah Shafawiyah Iran.

5. Mengembalikan hak-hak bangsa muslim Baluchistan yang dirampas oleh rezim Khamenei dan para mullah Teheran (hak-hak kewarga negaraan, hak-hak atas tanah, kehormatan, hak-hak kemanusiaan, kekayaan alam yang dikuras dan kelaparan yang mendera penduduk suku-suku muslim sunni Baluch).

Mujahidin Jaisyul Adl bergerilya di pegunungan Sistan-Baluchistan

Mujahidin Jaisyul Adl bergerilya di pegunungan Sistan-Baluchistan

Sampai saat ini mujahidin Jaisyul Adl masih berjihad dari wilayah pegunungan, hutan dan gurun pasir di wilayah Sistan-Baluchistan. Mereka adalah singa-singa yang memperjuangkan tegaknya tauhid dan melindungi hak-hak kaum muslimin ahlus sunnah di Iran.

balochistan2

(muhib almajdi/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Majalah Inspire edisi 10, "rudal" terbaru Al-Qaeda Semenanjung Arab

Written By Unknown on Sabtu, 02 Maret 2013 | 17.11

ABYAN (Arrahmah.com) – Mujahidin Al-Qaeda Semenanjung Arab (AQAP) atau juga dikenal dengan nama Anshar Ash-Shariah di Yaman, kembali menerbitkan majalah andalan mereka dalam bahasa Inggris, Inspire edisi 10. Tema utama majalah yang pernah "digawangi" oleh asy-syahid Syaikh Anwar Al-Awlaki dan asy-syahid Samir Khan itu cukup menantang "We All Are Usama".

inspire edisi 10

Majalah Inspire merupakan majalah jihad yang dirilis oleh Mujahidin Al-Qaeda Semenanjung Arab (AQAP). Majalah Inspire tidak bisa terbit rutin setiap bulan, mengingat para redaksi, penulis, wartawan dan seluruh kontributornya berada di medan jihad. Sengitnya pertempuran melawan pasukan salibis internasional, keterbatasan sarana komunikasi dan transportasi, resiko keamanan yang sangat tinggi dan berbagai kendala lainnya menyebabkan beberapa kali majalah ini terlambat terbit.

Toh hal itu tidak mengurangi kwalitas dan dampak global majalah jihad ini. Terbit dalam bahasa Inggris, majalah ini diakses oleh ratusan juta kaum muslimin di Eropa, Rusia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia. Dinas intelijen negara-negara salibis Barat, lembaga-lembaga internasional kontra terorisme, media massa internasional dan para pengamat militer senantiasa menanti-nantikan terbitnya edisi-edisi baru majalah ini dengan harap-harap cemas. Mereka antusias melahap sajian tiap edisi, guna memprediksi dan menganalisa kekuatan mujahidin Al-Qaeda.

inspire a

Edisi 10 majalah Inspire mengangkat tema yang sangat menarik. Amerika dan sekutunya menganggap gugurnya Syaikh Usamah bin Ladin dan para petinggi mujahidin Al-Qaeda lainnya sebagai kesuksesan gemilang operasi salibis mereka. Namun fakta di dunia Islam dan dunia Barat sendiri mementahkan klaim Obama dan sekutunya tersebut. Terbukti gerakan penegakan syariat Islam semakin marak di seluruh dunia. Dan jangan heran, rakyat di Tunisia, Aljazair, Maroko, Libya, Sudan, Mesir, Yaman dan banyak wilayah lainnya lantang menyuarakan "We are all Usama".

Syaikh Usamah bin Ladin memang telah tiada, namun semangat jihad dan penegakan syariat Islam telah berhasil diwariskannya kepada jutaan kaum muslimin di seluruh dunia.

inspire c inspire d

Edisi 10 majalah Inspire juga menghasung umat Islam untuk melakukan serangan-serangan jihad individu menargetkan tokoh-tokoh zionis dan salibis di Eropa dan Amerika. Jihad individu seperti yang dilakukan oleh Muhammad Mirah, yang menyerang sekolah Yahudi di Perancis.

inspire b

Satu lagi yang cukup memukul gembong teroris internasional, negara Amerika, bahwa salah satu anggota Majlis Syura Al-Qaeda Pusat yang juga warga AS, Yahya Adam Gadahn, tampil eksklusif dalam majalah Inspire edisi 10 ini. Benar hanya majalah, namun ia telak menghantam Obama, Cameron, Hollande dan sekutu-sekutunya.

Download Inspire 10

PDF

kualitas terbaik
66.53 MB
http://archive.org/download/Inspire.10/10high.pdf


kualitas rendah
11.89 MB
http://archive.org/download/Inspire.10/10small.pdf

(muhibalmajdi/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Kontras: Bubarkan Densus 88

JAKARTA (Arrahmah.com) – Keinginan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin yang ingin membubarkan Densus 88 mendapatkan dukungan dari Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (kontras). Pasalnya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang diontarkan oleh Din terkait ulah Densus 88 memang benar adanya.

"Kami juga sudah minta kapolri untuk bubarkan Densus 88, malah sejak dua tahun yang lalu. Tapi tak ada tanggapan," kata Koordinator Kontras Haris Azhar di Jakarta, Kamis (28/2/2013) sebagimana yang dilansir suara merdeka.com

Densus, menurut Haris, sudah terlalu menampakan citra buruk di mata masyarakat dan justru menyebabkan terorisme semakin meluas. Menurutnya, kebiasaan tertuduh "teroris" yang kini tidak hanya menyerang hotel dan tempat ibadah menjadi buktinya.

Haris memaparkan, pada awal kemunculannya, tertuduh "teroris" versi densus kerap kali menyerang symbol-simbol yang mereka anggap sebagai perwakilan kaum kafir. Namun akibat keberingasan Densus 88 dalam menangani terorisme, para tertuduh "teroris" versi Densus justru kini lebih senang menyerang polisi.

"Lihat saja tren penyerangan yang dilakukan oleh teroris kini sudah mulai menyasar markas, pos, dan tempat polisi berkumpul. Bukan itu saja, polisinya pun tak segan-segan untuk dibunuh," kata dia.

Dia pun berharap, agar masalah yang ditimbulkan oleh Densus 88 dapat segera dihentikan dengan menonaktifkan satuan yang berdiri sejak tahun 2003 itu. Sebagai gantinya, dia menyarankan agar  kewenangan penanganan terorisme dikembalikan kepada satuan Reskrim di setiap daerah dengan bantuan dari pusat.

"Dengan ini tidak akan ada lagi satuan yang merasa lebih berwenang dari satuan manapun. Hal tersebut dapat membatasi kewenangan, sehingga kebrutalan seperti yang dilakukan oleh Densus 88 bisa diredam," ujarnya. (bilal/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

IPW desak adili pelanggaran HAM Densus 88

JAKARTA (Arrahmah.com) – Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane meminta untuk menyikapi serius laporan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsudin ke Mabes Polri terkait dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan Densus 88 Anti Teror di Poso, Sulteng. Pasalnya, selama ini tak ada pengawasan yang ketat terhadap Densus 88.

"Laporan tersebut merupakan bukti bahwa kekerasan yang dilakukan oleh Densus 88 mulai bermunculan dan sebagai sebuah bentuk pelanggaran HAM serius," katanya, dalam siaran pers, Sabtu (2/3/2013) seperti dikutip dari detikcom.

Kata Neta, selama ini sebenarnya sudah banyak keluhan masyarakat terhadap sikap dan perilaku Densus 88. Diantaranya anggota Densus yang cenderung menjadi algojo ketimbang sebagai aparat penegak hukum yang melumpuhkan tersangka untuk kemudian dibawa ke pengadilan.

"Sehingga, apa yang dilaporkan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut adalah sebuah wujud keresahan dari tokoh Islam yang harus disikapi secara serius agar ada pembenahan di manajemen Densus 88," katanya.

Selain itu, laporan tersebut harus membuat Polri, Pemerintah, dan Komisi III DPR membuat sistem kontrol yang jelas terhadap kinerja Densus 88. Selama ini praktis tidak ada kontrol terhadap kinerja Densus.

"Di sisi lain sikap paranoid sebagian masyarakat terhadap isu-isu terorisme seakan memberi legitimasi kepada Densus untuk berbuat apa pun. Situasi ini tidak boleh dibiarkan. Sebab siapa pun di negeri ini, termasuk Densus 88 tidak boleh bersikap semena-mena," ingatnya.

Ia juga mendesak petugas Densus yang melakukan penyiksaan di Poso segera diadili karena melakukan tindak pidana penyiksaan. Jika tak ada kontrol yang lebih baik, IPW mendesak Densus 88 dibubarkan.

"Banyaknya keluhan terhadap sikap dan perilaku anggota Densus ditambah makin surutnya isu-isu terorisme, IPW menilai sudah saatnya Densus 88 antiteror dibubarkan," desak Neta.

"Jika suatu saat ada isu teror cukup Brimob yang turun tangan. Dalam Rakernis Brimob di Pusdik Brimob di Watukosek, Jatim pada akhir Februari 2013, Indonesian Police Watch yang diminta memberikan pembekalan kepada para kasat Brimob dari seluruh Indonesia, mengusulkan dan mendesak agar Densus 88 dibubarkan serta dilikuidasikan ke dalam Brimob," tandasnya. (bilal/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

PPP: Keberadaan Densus 88 mengusik rasa keadilan

JAKARTA (Arrahmah.com) – Wakil Ketua Umum DPP PPP Bapak Lukman Hakim Saifuddin menilai keberadaan Detasemen Khusus (Densus) 88 sudah cukup lama mengganggu ketenangan masyarakat dan arogan.

"Sudah sejak lama keberadaan Densus 88 di tubuh Polri itu mengusik rasa keadilan kita. Tindakan mereka berupa penembakan dan pembunuhan dalam memerangi terorisme, misalnya, dinilai telah melanggar Hak Asasi Manusia. Prosedur yang mereka tempuh dinilai sudah terlalu sewenang-wenang," Ungkapnya melalui rilis yang dikirim kepada arrahmah.com, Sabtu (2/1/2013).

Lanjut Wakil Ketua MPR RI ini, dikalangan ormas Islam, keberadaan Densus 88 itu sudah meresahkan. Sepak-terjang mereka dalam pemberantasan terorisme dinilai seringkali mengkait-kaitkan dengan agama Islam dan menjadi stigma terhadap umat Islam.

"Ini tentu sungguh merugikan dan mendeskriditkan keberadaan umat Islam," Kata Lukman.

Ia pun menilai perlu evaluasi yang menyeluruh terhadap keberadaan Densus 88. Kapolri diminta untuk serius menindaklanjuti tuntutan sejumlah ormas Islam yang menghendaki pembubaran Densus 88.

"Keberadaan Brimob sesungguhnya sudah memadai dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat," tutupnya. (bilal/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

DEPLU AS: Kami tetap mendukung penuh pemerintah Yaman

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Patrick Ventrell, menegaskan bahwa pemerintah AS tetap memegang komitmen untuk mendukung penuh Presiden Yaman Abdu Rabbih Manshur Hadi dan pemerintahan Persatuan Nasional Yaman.

Kantor berita Yaman, Saba', mengutip pernyataan resmi Ventrell dalam jumpa pers yang diadakan pada Kamis (28/2/2013) yang mengatakan, "Pemerintah AS masih tetap pada komitmennya dalam mendukung Presiden Hadi dan Pemerintahan Persatuan Nasional serta fase transisi politik yang saat ini dialami oleh Yaman."

Ventrell memuji kemajuan yang telah dicapai oleh pemerintah Yaman. Pemerintah Yaman sedang mempersiapkan diri untuk menggelar Konferensi Dialog Nasional yang menyeluruh pada tanggal 18 Maret mendatang.

"Kami melanjutkan dukungan kami kepada seluruh partai politik untuk memainkan peranan yang membuahkan hasil dalam fase transisi politik di Yaman guna merealisasikan kepentingan-kepentingan rakyat." kata Ventrell.

Pemerintahan boneka Manshur Hadi menjalankan program AS dalam perang melawan mujahidin Anshar Shari'ah di Yaman Selatan. Ratusan warga sipil muslim dan mujahidin gugur oleh serangan-serangan drone penjajah salibis AS di Yaman Selatan selama tahun 2012. Hal itu memicu gelombang protes rakyat di propinsi Aden, Abyan, Hadramaut, Sha'dah dan Baidha'. (muhibalmajdi/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger