Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Diskusi Wahid Institute: Kebencian tak berujung pada FPI

Written By Unknown on Rabu, 09 Januari 2013 | 17.11

Bilal

Rabu, 9 Januari 2013 12:11:50

JAKARTA (Arrahmah.com) - Tepuk tangan berulang kali membahana di lantai dasar Gedung Mahkamah Konstitusi, di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Setiap kali ada pernyataan Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid, atau bahkan lontaran peserta seminar yang menyudutkan Front Pembela Islam (FPI), sekitar 150 peserta bergemuruh menepukkan tangannya. Peserta seminar memang mayoritas kelompok jaringan liberal. Ditambah sejumlah pendeta, aktivis GKI Yasmin dan Jubir Ahmadiyah. Hanya ada beberapa saja dari kalangan ormas Islam.

Itulah sedikit pemandangan dalam seminar bertajuk "Kekerasan Agama dan Masa Depan Toleransi di Indonesia" hasil kerjasama The Wahid Institute dan Mahkamah Konstitusi, Selasa siang kemarin (9/1/2013).

Seminar menghadirkan pembicara utama Direktur The Wahid Institute Yenny Zannuba Wahid, Anggota MK Hamdan Zoelva dan Karo Wassidik Bareskrim Mabes Polri  Brigjen Pol Roni F Sompie. Ketua Komnas HAM Otto Nur Abdullah yang telah dijadwal ternyata tidak hadir. Sebelumnya, Ketua MK Mahfud MD memberikan sambutan dan membuka seminar ini.

Meski di awal pemaparan Yenny mengatakan acara ini bukan untuk menghakimi kelompok tertentu, tetapi dalam "perjalanannya" memang terasa mereka ingin "menghakimi" FPI yang dituding Wahid Institute sebagai pelaku tindakan intoleransi terbanyak selama tahun 2012.

"Seminar ini tidak bertujuan untuk menyalahkan atau menyudutkan atau memberikan kesan negatif pada siapapun. Tetapi untuk menyibakkan realitas dalam masyarakat, seperti ini lho yang terjadi di masyarakat kita," kata Yenny.

Padahal, faktanya, sesuai paparan yang disampaikan Yenny, ternyata juara pelaku tindak "kekerasan" selama tahun 2012 bukanlah FPI, melainkan negara melalui instrumen kepolisian.

Berdasarkan hasil "klipping" media yang dilakukan The Wahid Institute, FPI dituduh melakukan 52 tindakan intoleransi selama 2012. Angka ini sebenarnya jauh lebih kecil dibandingkan pelanggaran oleh negara yang dilaporkan yakni 110 pelanggaran yang terdiri dari 16 tindakan kekerasan.

Secara keseluruhan Wahid Institute menyebutkan selama 2012, terjadi 274 kasus pelanggaran denan 363 tindakan. Aktornya, negara 110 kasus dengan 166 tindakan dan non-negara 147 kasus.  "Ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya," kata Yenny.

Anehnya, meski tindakan yang konon katanya dilakukan FPI jauh lebih sedikit, tetapi rupanya justru inilah yang ditonjolkan dalam laporan itu. Seolah-olah FPI adalah ormas pelaku intolerasi. Padahal mestinya yang jadi sorotan utama adalah kekerasan oleh negara, terutama aparat kepolisian, yang menembaki rakyatnya yang tak berdosa dengan dalih pemberantasan terorisme.

"Saking seringnya, setiap 10 hari mereka melakukan tindakan intoleransi. Mungkin semua sudah tahu mereka memakai bendera yang bernama FPI," tuduh Yenny yang juga Ketum PKBIB yang gagal lolos verifikasi KPU.

Sebelumnya, saat membuka presentasinya, Yenny menunjukkan gambar-gambar yang diklaimnya sebagai hasil pencarian dari "google". Dalam presentasinya Yenny menaruh gambar aksi Forum Umat Islam (FUI) yang memadati Jalan MH Thamrin, aksi tolak Ahmadiyah dan berbagai foto terkait penolakan umat Islam terhadap Ahmadiyah dan gereja ilegal.

"Potret indonesia sekarang kalau kita ketik google, tolerasi di indoneia, maka kita akan melihat gambar tadi. Tentu sangat miris kita," kata Yenny.

Padahal, setelah Suara Islam Online melakukan apa yang dierintahkan Yenny, buka google, ketik "toleransi di Indonesia", tidak ada gambar-ambar yang dimaksudkan. Aksi unjuk rasa tentu saja tidak bisa dikatakan sebagai tindakan intoleransi. Sebab unjuk rasa memang hak warga yang dijamin Undang-undang. Apakah Yenny tidak paham hal itu?.

Jadi Bulan-bulanan

"Pengadilan in absentia" terhadap FPI berhenti setelah Yenny Wahid usai memberikan presentasinya. Hamdan Zoelva, hakim MK, berbicara secara normatif mengenai jaminan kebebasan beragama dalam konstitusi. Hamdan malah mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang tidak mengambil jarak dengan agama. Melalui pernyataannya ini, secara tersirat dapat dimaknai bahwa Hamdan menolak gagasan sekulerisme.

Demikian pula dengan Brigjen Pol Roni F Sompie. Karo Wassidik Bareskrim Mabes Polri yang mengaku beragama Kristen Protestan ini juga sama sekali tidak menyinggung soal kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat. Secara normatif ia menjelaskan hal-hal yang terkait dengan tuas aparat kepolisian. Padahal, aparat kepolisianlah yang dituduh Wahid Institute telah melakukan tindak kekerasan terbesar selama 2012. Roni tidak membantah tudingan itu.

Ketika sesi tanya jawab, FPI kembali jadi bulan-bulanan. Adalah seorang waria, Widodo Budi Darmo alias Dodo, yang menceritakan kisahnya berhubungan dengan polisi dan aktivis FPI sekaligus dalam sebuah kegiatan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Widodo Budi Darmo, waria yang juga Koordinator Program Arus Pelangi

Dodo, Koordinator Program Arus Pelangi, sebuah LSM yang aktif membela hak-hak lesbian, gay, biseksual dan transeksual (LGBT), dengan gayanya yang "lenjeh" dengan vulgarnya menceritakan pengalamannya saat acara yang hendak dia gelar bersama rekan-rekannya dibubarkan oleh FPI.

"Polisi takut sama FPI. Saya hubungi Polda, Mabes Polri, mereka semua bilang katanya ada keberatan dari FPI. Lho FPI ini siapa," kata Dodo yang disambut gemuruh tepuk tangan peserta seminar. "Binaan..binaan," teriak peserta lainnya.

Kata Dodo, bahkan Polisi yang ada di lapanganpun dibentak oleh oknum FPI. "Polisi-polisi itu dibentak oleh FPI," katanya lebay.

Curhatan Dodo yang panjang lebar itu kemudian saat sesi jawab, ditanggapi oleh Yenny Wahid. Yenny mengaku memberi perhatian dan simpati yang sangat mendalam pada kalangan waria. Yenny lantas menyinggung soal kegiatan FPI yang diketahuinya memang sebelum melakukan "aksi" mereka telah melakukan berbaai tahapan prosedur. Tapi kemudian Yenny berkata secara retoris, "Memang mereka siapa?. Kalau seperti itu mestinya Banser yang lebih siap melakukan," kata Yenny.

Nyatalah kebencian mereka terhadap aktivitas amar makruf nahi munkar yang dilakukann FPI. Dan benarlah apa yang disampaikan Ketua Umum FPI Habib Rizieq Syihab kepada Suara Islam Online beberapa waktu lalu, bahwa laporan LSM liberal ini tak lebih sebagai laporan sampah yang bau dan busuk. "Wahid Institute hanya cari muka kepada asing!. Maklum kurang kerjaan, sehingga dolar mampet!", tudingnya. 

FPI tegas menyatakan tidak akan melayani tuduhan palsu Wahid Institute itu. "Tidak perlu kami layani, karena FPI bukan level komprador atau antek asing," tegasnya. (bilal/SI-online/arrahmah.com)

Baca Juga:

17.11 | 0 komentar | Read More

Ulama Suriah: Ini adalah Revolusi Islam

Bilal

Rabu, 9 Januari 2013 13:00:10

SURIAH (Arrahmah.com) - Sebenarnya apa visi ideologi tsauroh atau revolusi Suriah? Pertanyaan ini kerap muncul dalam sosialisasi Peduli Suriah di Indonesia. Info yang terbatas tentang situasi Suriah membuat pertanyaan ini kadang susah dijawab.

Info dari media tak selalu membantu. Media di Indonesia, yang kebanyakan merujuk kantor berita Barat, kerap menggambarkan revolusi ini sekuler semata. Rakyat yang bosan ditindas melawan penguasa yang tiran.

Lebih parah lagi berita media yang merujuk pada media resmi rezim Bashar Asad. Atau yang mengambil berita dari media Iran yang membela Bashar demi solidaritas Syiah. Media-media jenis ini menggambarkan revolusi Suriah sebagai hasil rekayasa Barat untuk menggulingkan Bashar Assad, hero Syiah yang anti-Israel.

Tak heran muncul kesan bahwa ini adalah perang saudara, pemberontakan sekuler atau bahkan revolusi rekayasa Barat. Namun, setelah menginjak bumi Suriah dan berbincang dengan masyarakatnya dari berbagai kalangan, kami melihat dua jenis media di atas ternyata memberikan info yang menyesatkan.

Di antara yang kami temui adalah para ulama di sini. Secara terpisah kami sempat menemui Syaikh Muhammad, Syaikh Walid dan Syaikh Khalid Amru. Mereka adalah para ulama dan imam masjid di kawasan barat Suriah. Syaikh Khalid Amru bahkan menjadi koordinator Haiah Syari'ah di kawasan tersebut.

Syaikh Muhammad menyatakan, "Ini adalah revolusi Islam, kami mengharapkan bantuan umat Islam  bentuk doa dan lain-lainnya agar revolusi segera dimenangkan."

Syaikh sepuh ini adalah  alumni Universitas Al-Azhar. Ia lulus tahun 1982 dari kampus bergengsi di Mesir itu. Ketika kami menemui beliau, dengan bersemangat beliau menceritakan bagaimana rezim Nushairi membungkam para ulama. Datangnya revolusi membuat dakwah kini kembali berjalan.

Dalam kesempatan yang sama, Syaikh Walid, seorang imam dan khatib yang lebih muda, menyambut baik kehadiran kami dari Indonesia. Beliau mengutarakan keutamaan Bumi Syam sebagaimana diterangkan dalam hadits-hadits Rasulullah saw.

Yang menarik, beliau meyambut kami bukan sebagai orang asing. "Negeri ini juga negeri kalian," kata Syaikh Walid. "Syam adalah untuk seluruh kaum Muslimin. Hadzihi Syaaminaa… Ini adalah Syam kita semua."

Lalu beliau mengutip ayat 55 Surat An-Nuur. Yaitu janji Allah akan kekuasaan, kemenangan dan bergantinya ketakutan menjadi keamanan bagi mereka yang beriman dan beramal shalih. Berdasarkan ayat itu, beliau yakin bahwa kemenangan Muslim Suriah telah dekat.

"Insya Allah kami akan meraih kemenangan. Meskipun kami sadar, kemenangan Muslim Ahlussunnah di sini akan dibenci oleh kaum Syiah, Iran, Amerika dan pihak-pihak lainnya."

Di antara hikmah berkobarnya revolusi, menurut alumni Kuliyah Syariah Damaskus ini, adalah para ulama sepakat kembali pd fahmu salaf. Sebelumnya, pengaruh Syiah dipromosikan luas di Suriah. Para ulama yang diangkat pemerintah menjadi corong penguasa dan menyeesatkan umat. "Kami berada di tsughur (perbatasan dengan musuh) untuk melakukan ribath. Baik secara  fisik maupun pemikiran."

Sementara itu, dalam pertemuan terpisah, Syaikh Khalid Amru menegaskan bahwa revolusi yang meletus di Suriah adalah perjuangan melawan kezhaliman. Pada dasarnya ahlussunnah di Suriah tidak ingin menzhalimi kaum Nushairi, Mursyidi maupun sekte-sekte sesat lainnya.

Mereka hanya menginginkan perbaikan dari kondisi yang tidak adil di bawah rezim Nushairi. "Perlawanan bersenjata baru meletus ketika rezim menembaki demonstran, mengebom kota-kota dan menghancurkan masjid-masjid," kata beliau. Inilah sekelumit pandangan para ulama di Suriah yang sempat kami temui tentang jalannya revolusi di Bumi Syam itu. [AZ]

Catatan Relawan HASI dari Suriah. (bilal/arrahmah.com)

Baca Juga:

17.11 | 0 komentar | Read More

Militer Mali: Peperangan kami melawan pasukan jihad telah dimulai

Muhib Al-Majdi

Rabu, 9 Januari 2013 13:00:56

BAMAKO (Arrahmah.com) – Peperangan sengit antara mujahidin Anshar Ad-Din dan pasukan rezim sekuler Mali masih berlangsung sampai Selasa (8/1/2013) malam di wilayah Sevare, 600 kilometer dari kota Gao, Mali Utara, laporan kantor berita Nawakshut.

Wilayah Sevare merupakan pintu gerbang menuju kota strategis Mopti. Kota Mopti adalah salah satu kota utama yang masih dikuasai oleh rezim sekuler Mali. Kota itu menjadi tapal batas pertahanan terdepan rezim sekuler Mali di wilayah Mali Utara yang dua pertiganya telah berada dalam kontrol pemerintahan Islam mujahidin Anshar Ad-Din.

Kota Mopti berada dalam jalur jalan raya yang menghubungkan dua kota besar yang telah berada dalam kontrol mujahidin, kota Gao dan kota Timbuktu. Mujahidin Anshar Ad-Din bergerak dari kota Timbuktu untuk merebut pangkalan militer rezim Mali di wilayah Sevare sebagai langkah awal untuk merebut kota Mopti.

Pertempuran sengit berlangsung di desa Kona, lokasi pangkalan militer rezim Mali di gerbang kota Sevare. Penduduk desa menyatakan pasukan rezim Mali mempergunakan peralatan perang berat dan kendaraan pelontar rudal. Mereka juga mengerahkan pasukan tambahan untuk memperkuat pertahanan di sekeliling desa.

Media massa di Mali mengutip dari para perwira militer Mali yang mengatakan bahwa peperangan mereka yang ditunda melawan pasukan jihad kini telah dimulai. Pemerintah Bamako telah mengirimkan tambahan pasukan untuk menghalau serangan kelompok Anshar Ad-Din dan Al-Qaeda.

Sementara itu mujahidin Anshar Ad-Din telah menangkap setidaknya 12 tentara pemerintah bersama kendaraan dan perlengkapan militer mereka, ujar sebuah laporan.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (7/1/2013) saat tentara rezim sekuler Mali melakukan patroli di luar desa Kona dekat kota Mopti, ketika ketegangan meningkat dan para Mujahid bergerak semakin dekat ke daerah-daerah yang masih berada di bawah kendali rezim sekuler Mali. (muhib almajdi/ arrahmah.com)

Baca Juga:

17.11 | 0 komentar | Read More

Brigade Kristen Suriah bergabung dengan Mujahidin untuk melawan rezim Assad

Siraaj

Rabu, 9 Januari 2013 14:00:20

DAMASKUS (Arrahmah.com) - Sebuah brigade Kristen Suriah yang turut berjuang melawan rezim tirani telah terbentuk di sekitar Damaskus.

Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di Youtube, sekelompok pemuda Kristen Suriah menyatakan bahwa mereka adalah Brigade Ansarullah yang bergabung dengan Mujahidin Islam dalam melawan rezim Syiah Nushairiyah pimpinan Bashar Assad.

Dengan tampil mengangkat senjata dan menggunakan penutup kepala, berdiri dengan latar bendera Suriah dan salib, Brigade Kristen Suriah menyatakan, "Kami adalah para pejuang Kristen Suriah, mengumumkan pembentukan sebuah brigade Ansarullah di sekitar Damaskus dan bergabung dengan revolusi Muslim untuk mempertahankan tanah air kami, untuk menggulingkan rezim tiran ini dan untuk menegakkan keadilan di negaara ini tanpa ada pemisah (diskriminasi etnis atau agama -red) di antara rakyat."

Mereka juga menyeru kepada rakyat Suriah yang belum bangkit untuk berjuang untuk bangkit melawan tirani.

"Kami menyeru kepada seluruh rakyat Suriah untuk bangkit melawan tirani!"

(siraaj/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Sekjen Muhammadiyah: Bubarkan pengajian, Polisi dapat timbulkan gesekan dimasyarakat

Bilal

Rabu, 9 Januari 2013 15:00:39

JAKARTA (Arrahmah.com) - Pembubaran pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Hidayah, Handel Dutoi, Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas mencederai Undang-undang. Bahkan, atas tindakannya yang represif, polisi dinilai dapat memicu gesekan di masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti.

Mu'ti menilai apa yang dilakukan polisi dengan membubarkan pengajian tidak dapat diterima. Terlebih kalau alasan pembubaran pengajian tersebut tidak jelas. Sebab, berdasarkan UU, polisi tidak boleh membubarkan kegiatan masyarakat sepanjang tidak mengganggu ketertiban dan keamanan. Bahkan, sudah menjadi hak masyarakat untuk berkumpul dan berserikat.

"Polisi harusnya berhati-hati bertindak agar tidak muncul gesekan dan kekerasan di masyarakat," kata Abdul Mu'ti seperti dilansir Republika, Rabu (9/1).

Mu'ti menambahkan, kalaupun tuduhan polisi benar bahwa pengajian itu bermuatan politis, maka polisi harus menyampaikan bukti-bukti, bukan sekadar membubarkan. Polisi harusnya mendalami isi dari materi pengajian yang disampaikan. Terlebih pengajian tersebut dilaksanakan di tempat yang seharusnya seperti masjid.

Apalagi kalau pengajian tersebut sudah menyertakan pemberitahuan pada polisi jika tidak dilakukan di masjid. "Kalau dimasjid, tidak perlu pemberitahuan dan tidak boleh dibubarkan," tegas Mu'ti. (bilal/arrahmah.com)

Baca Juga:

17.11 | 0 komentar | Read More

JAT kutuk penembakan brutal yang dilakukan Densus 88

Written By Unknown on Senin, 07 Januari 2013 | 17.11

Bilal

Senin, 7 Januari 2013 12:00:21

JAKARTA (Arrahmah.com) - Jama'ah Anshorut Tauhid Mengutuk dan memprotes keras atas pembunuhan yang dilakukan Densus 88 terhadap 7 orang muslim  di Makasar dan Bima dengan alasan mereka hanya terduga  teroris (4-5/1/2013).

"Namun, yang jelas mereka adalah seorang muslim dan yang lebih memprihatinkan  2 (dua) orang dibunuh di teras Masjid Nur Alfiah RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makasar di hari Jumat 4 Januari 2013," demikian ungkap Juru Bicara JAT Ustadz Son Hadi dalam rilisnya kepada arrahmah.com, Jakarta, Senin (7/1/2013)

Menurut Pria yang akrab disapa Ustadz Son ini,  tindakan pembunuhan yang dilakukan Densus  tersebut merupakan tindakan extra judicial killing dan masuk pelanggaran HAM berat.  JAT mendesak kepada pihak yang berkompenten baik internal POLRI  maupun Komnas HAM  untuk serius mengusut tuntas kasus ini. Alasannya, karena hal ini sangat mencederai nilai-nilai agama dan kemanusian.

"JAT mendesak segera dibentuk TPF (Tim Pencari Fakta ) yang independen dan transparan untuk mengungkap kasus pembunuhan ini," tegasnya.   

Lanjutnya, JAT mengajak kepada Ulama, Kiai dan  seluruh elemen umat Islam untuk mewaspadai akan adanya Gerakan Anti Islam yang menunggangi  institusi POLRI (Densus 88) untuk memerangi Islam dan umat Islam berdalih ini adalah perang terhadap terorisme.

Prihatin dengan situasi tersebut, Ustadz Son menutup siaran persnya dengan do'a memohon pertolongan kepada Allah SWT.

"Ya Alloh mereka telah membunuh hamba-hambaMU dengan brutal dan keji maka hancurkanlah dan azab mereka dengan azabMU yang pedih, wa makkaru makarallah wallahu khoiru maakirin," tuturnya mengakhiri keterangan. (bilal/arrahmah.com)

Baca Juga:

17.11 | 0 komentar | Read More

Tadzkiroh Ustadz Ba'asyir kepada Penguasa: Peringatan, pencerahan, dan perlawanan

Bilal

Senin, 7 Januari 2013 13:11:11

JAKARTA (Arrahmah.com) - Amir Jamaah Ansharut Tauhid Ustadz Abu Bakar Baasyir kembali meluncurkan karyanya berjudul Tadzkiroh II. Buku ini adalah lanjutan Tadzkiroh I, yang ia tulis semasa menjalani masa penahanan di Rumah Tahanan Bareskrim, Mabes Polri.

Buku tadzkiroh ini, merupakan buku peringatan dan nasehat Amir JAT itu kepada para pengemban jabatan dan kekuasan di NKRI agar mau meninggalkan hukum kufur buatan manusia yang dapat menjerumuskan mereka kepada kekafiran dan ancaman siksa pedih di akhirat.

Buku bersampul hijau setebal 176 halaman ini secara garis besar berisi peringatan dengan menyertakan firman Allah SWT yang ditujukan untuk Ketua MPR/DPR dan penyelenggara negara yang thagut bidang hukum dan pertahanan yang mengaku Muslim.

Peluncuran buku dilakukan bersama dengan bedah buku tersebut yang menghadirkan, beberapa pembicara diantaranya Direktur Deradikalisasi BNPT, Prof. Dr. Irfan Idris, Ustadz Muhammad Achwan (Amir Binniyabah JAT), Ustadz Abu Fida, dan Harits Abu Ulya di Taman Ismail Marzuki (TIM, Jakarta, Minggu (6/1/2013).

Ustadz Baasyir yang kini menjalani masa tahanannya di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, menasihati mereka agar tidak lagi mempertahankan sistem pemerintahan kafir dan tegaknya hukum-hukum jahiliyah sebelum maut menjemput.

"Mereka harus menuntut penguasa agar mengubah dasar negara dan hukum positif NKRI dengan syariat Islam secara kaffah," begitu ucap Ustadz Baasyir seperti tertulis dalam kata pengantarnya halaman sembilan, yang ia tulis pada 16 Maret 2012 di rutan Bareskrim.

Menurutnya, jika penguasa menolak, mereka harus bekerjasama dengan umat Islam mengadakan revolusi sampai NKRI benar-benar diatur dengan syariat Islam secara menyeluruh, dengan alasan ini termasuk hak asasi dan keyakinan umat yang tak boleh ditawar.

"Bila tak mampu bertaubat dengan langkah di atas, maka semua pimpinan dan anggota MPR/DPR wajib melepaskan jabatan, juga semua aparat thagut di bidang hukum dan pertahanan wajib melepaskan jabatannya dalam pemerintahan thagut," tambahnya.

Ustadz Baasyir juga meminta kepada istri-istri mereka agar menasehati suaminya agar bertaubat melepaskan jabatan di MPR/DPR dan instansi lainnya. Bila suaminya menolak, istrinya harus pergi melepaskan diri dari suaminya karena pernikahannya batal. Karena menurutnya, pernikahan mereka batal karena suaminya kafir.

Sementara itu, salah satu pembicara Ustadz Muhammad Achwan  menjelaskan bahwa Ustadz Abu Bakar Ba'asyir memang selalu memberikan tadkiroh jilid 1 dan 2 kepada jajaran kepolisian, polri, koramil polsek dengan tujuan memberikan pencerahan kepada mereka terhadap negara yang sudah amburadul.Tapi, karena adanya kepentingan tertentu, menurut Ustadz Achwan, mereka tidak fair terhadap umat islam yang menginginkan pencerahan.

"Ustadz Abu tidak mempermasalahkan apa nama negara ini, yang penting syariat Islam ditegakkan," jelas Amir Binniyabah JAT ini dalam press conference kepada awak media.

Perlawanan

Sedangkan, pembicara lainnya menjelaskan bahwa vonis kafir atau pengkafiran yang banyak diulas dalam buku tersebut dan diarahkan kepada pihak-pihak yang enggan berhukum dengan hukum Allah atau kepada para thoghut dan penolongnya (anshor). Pada substansinya merupakan bentuk seruan perlawanan atas kezaliman yang mereka sebarkan.

"Jadi takfir (vonis kafir) itu pada hakikatnya merupakan perlawanan, perlawanan terhadap thoghut yang akan bertindak diktator. Dan, perlawanan ini merupakan ibadah walaupun terkadang dianggap tidak masuk akal, karena sebagian ibadah tidak semuanya masuk akal," ungkap Ustadz Abu Fida.

Mubaligh yang juga lulusan Univ. Ummul  Qurra' ini melanjutkan, bahwa pengkufuran terhadap thoghut itu merupakan prinsip utama di dalam tauhid yaitu seperti termaktub dalam ayat fa man yakfur biththoghut wa yu'min billah (Barang siapa mengkufuri thoghut, dia telah beriman kepada Allah).

"Inti iman itu ada dua, al kufru bith thoghut, al iman billah" jelasnya.

Sedangkan, Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya menilai buku itu sudah cukup ilmiyah dan sesuai dengan Fatwa MUI tentang larangan Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme. Meskipun ia menyayangkan MUI membahas dalam fatwa tersebut hingga kepada status NKRI.

"Saya sayangkan fatwa tersebut tidak  meningkatkan pembahasan manathul Hukmi , apakah negara ini sekuler dan juga diharamkan," ujarnya.

Harits pun, memberi masukan terhadap buku tersebut, agar  memasukkan juga kepala Badan Intelijen sebagai sasaran seruan tersebut. Karena, dalam sejarahnya Intelijen mempunya peran besar dalam merusak negeri ini. Selain itu, buku tersebut menurutnya berpeluang dijadikan sasaran dramatisasi oleh BNPT untuk melegitimasi pemberangusan gerakan dakwah dan jihad bahwa ustadz Ba'asyir telah menyerukan Jihad kepada negeri ini dengan hukumnya yang fardhu 'ain.

"Padahal, seruan itu bersifat umum, dan tidak berkait dengan jama'ah. Seruan itu implementasinya itu diserahkan kepada umat dalam bentuk dan kemampuan sendiri-sendiri," jelasnya.

Ia juga menambahkan, pada hakikatnya buku tersebut bentuk kasih sayang ustadz ba'asyir kepada para pengemban negara agar dapat selamat di dunia dan akhirat.

BNPT batal hadir

Sementara itu pula, Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) Prof.Irfan Idris, urung menghadirkan acara bedah buku tersebut. Sehari sebelumnya, ia beralasan sedang sakit. Atas ketidak hadirannya, ia mengirimkan penggantinya yaitu Muslih Nasohah anggota MUI Bidang Dakwah Khusus yang juga Dosen UIN Lampung.

Tak Pelak, ketidak hadiran Irfan Idris disayangkan oleh pembicara dan peserta yang hadir. Karena, mereka tidak dapat berdiskusi langsung dengan lembaga yang kerap kali menuding ustadz Abu Bakar Ba'asyir dan JAT terlibat dalam jaringan teroris.

Salah satu peserta seorang dosen Univ Ibnu Khaldun DR.Poppi Pasaribu, mempersoalkan sosok pengganti Irfan Idris tersebut. Menurutnya, kehadiran pengganti itu tidak layak dan menyalahi disposisi.

"Seharusnya  prof Irfan mengirim pejabat eselon dua atau tiga dari BNPT  bukan dari MUI. Jadi, menurut saya kehadiran pak Muslih tidak legal berada dalam forum ini, pertanyaannya mengapa mau menjadi alat dalam posisi yang sala ini," tandasnya

Sebelumnya, secara halus Muslih mengkritisi buku tadzkiroh tersebut kurang ilmiyah karena terlalu banyak menaruh lampiran dan ia mengklaim perlu diberi masuka agar tidak dilecehkan ketika buku itu berada dimasyarakat.

Harits Abu Ulya pun membantah bahwa buku tersebut tidak ilmiyah. Menurutnya ketidak ilmiyahan buku seringkali tergantung paradigma yang membacanya.

"kalau orang-orang sekuler melihat pencantuman ayat Qur'an dan hadis mereka mengatakan buku tersebut tidak ilmiyah, mereka mau mengatakan buku tersebut ilmiyah jika terdapat kutipan kata-kata sarjana barat atau pun filosof barat" imbuhnya. (bilal/arrahmah.com)

Baca Juga:

17.11 | 0 komentar | Read More

Barack Obama akan angkat Mentri Pertahanan baru

Muhib Al-Majdi

Senin, 7 Januari 2013 13:18:27

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Presiden Barack Obama menominasikan mantan senator Partai Republik, Chuck Hagel, sebagai Mentri Pertahanan AS pada Ahad (6/1/2013) dan kemungkinan akan mengumuman secara resmi pengangkatannya pada Senin (7/1/2013), kata seorang pembantu anggota konggres dari Partai Demokrat, laporan kantor berita Reuters.

Pembantu anggota konggres dari Partai Demokrat itu memperkirakan kebijakan Obama itu akan mengundang penentangan sengit di Senat AS mengenai apakah mantan senator Nebraska itu mendukung sekutu kunci AS, Israel, dengan sangat kuat. Hagel juga dikritik atas komentarnya yang meragukan manfaat sanksi terhadap Iran atas pengembangan program nuklirnya.

Perdebatan sengit di kalangan senat terjadi setelah pemerintahan Obama mundur dari perdebatan sengit dalam Senat AS dalam masalah pencalonan Susan Rice, duta besar AS untuk PBB semula menjadi pilihan pertama Obama untuk menggantikan Hillary Clintons ebagai Mentri Luar Negeri. Susan Rice menarik mundur namanya dari pencalonan setelah mendapat serangan gencar dari anggota Partai Republik atas komentar yang ia lontarkan mengenai misi AS di Libya setelah terjadinya serangan 11 September 2011 yang menewaskan Duta Besar AS di Benghazi, Libya.

"Pemerintahan Obama harus banyak bekerja untuk (membela) Hagel. Ia dalam posisi yang lebih lemah daripada (Susan0 Rice, sebab Rice masih bisa membawa seluruh anggota senat Partai Republik untuk mendukung di belakangnya," kata pembantu senator Partai Demokrat.

Ia menambahkan, "Pemerintahan Obama mengajukan nama Hagel, lalu pura-pura tidak tahu untuk membelanya secara efektif ketika kritikan demi kritikan membidik dirinya."   

Bulan lalu Obama memberikan dukungan kuat kepada Hagel untuk menggantikan posisi Mentri Pertahanan, Leon Panetta, yang telah menyatakan akan lebih awal meninggalkan jabatannya pada periode kedua pemerintahan Obama.

"Saya telah I've served with Chuck Hagel. Saya mengenalnya. Dia adalah seorang pahlawan. Ia adalah seorang sosok yang telah melakukan pekerjaan yang luar biasa di Senat AS dan juga sosok yang telah melayani negara ini dengan keberanian di Vietnam," kata Obama kepada stasiun TV NBC's pada Ahad (30/12/2012) lalu.

Siapa pun Mentri Pertahanan AS, kebijakan luar negeri negara penjajah salibis terbesar di dunia itu tidak pernah berubah. Perang terhadap syariat Islam dan kaum muslimin dengan mengatas namakan perang terhadap terorisme selama lebih dari dua belas tahun terakhir telah menjadi kebijakan baku AS. Dukungan totalitas secara membabi buta terhadap penjajah zionis Israel juga tidak pernah berubah dari kamus kebijakan luar negeri AS. (muhib almajdi/arrahmah.com)

Baca Juga:

17.11 | 0 komentar | Read More

Wasiat terakhir Abu Qa'qa' Asy-Syimali, pelaku serangan bom syahid di Hamah

Muhib Al-Majdi

Senin, 7 Januari 2013 14:22:52

HAMAH (Arrahmah.com) – Serangan bom syahid yang dilakukan oleh mujahidin Jabhah Nushrah Suriah terhadap markas militer rezim Nushairiyah Suriah di desa Ziyarah, kota Sahl Al-Ghab, propinsi pinggiran Hamah pada bulan November 2012 lalu memang sangat dahsyat. Truk yang dikendarai oleh sang pelaku serangan, Abu Qa'qa' Asy-Syimali, membawa bom berbobot lebih dari 3,5 ton.

Ceceran anggota badan para tentara rezim beterbangan di udara sampai terlihat dari jarak sejauh 100 meter. Serangan dahsyat itu telah menewaskan sedikitnya 200 tentara. Selain itu, rumah sakit setempat penuh dengan ratusan tentara yang terluka. Serangan dahsyat itu juga memaksa tentara rezim Suriah di posko-posko keamanan terdekat untuk ditarik mundur.

Hal yang sangat mengharukan dari serangan bom syahid itu adalah wasiat terakhir Abu Qa'qa' Asy-Syimali. Video terbaru yang dirilis oleh yayasan media Al-Manarah Al-Baidha' memperlihatkan Abu Qa'qa' Asy-Syimali rahimahullah membacakan pesan terakhirnya sebelum ia melakukan serangan bom syahid tersebut.

Inilah wasiat sang mujahid tersebut sebagaimana dimuat dalam video Bidayah An-Nihayah seri 4 yang dirilis oleh yayasan media Al-Manarah Al-Baidha' pada Senin (7/1/2013).

"Kepada ibuku yang penyayang dan tercinta…kepada ayahku yang terhormat dan tercinta…jika telah sampai kepada kalian berita kesyahidanku, insya Allah, maka bersabarlah kalian dan janganlah kalian mengeluh…ucapkanlah tahlil, takbir dan tahmid karena Allah telah mengaruniakan dari keturunan kalian seorang anak yang berbakti dan memenuhi hak agamanya dan umatnya yang terluka.

Wahai para pemuda Islam, inilah surga telah membukakan pintu-pintunya dan dinampakkan perhiasannya kepada kalian. Ia memanggil kalian: "Marilah kalian kepadaku…wahai hamba-hamba Allah."

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

"Hai orang-orang yang beriman, kenapa kalian jika dikatakan kepada kalian "Berangkatlah kalian berperang di jalan Allah!" maka kalian lengket dengan dunia. Apakah kalian rela dengan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? Maka kenikmatan dunia itu dibanding kenikmatan akhirat hanyalah sedikit belaka." (QS. At-Taubah [9]: 38)

Wahai para pemuda Islam, marilah bersegera kepada amalan yang paling utama setelah beriman kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam ditanya, "Apakah amalan yang paling utama?" Maka beliau menjawab, "Iman kepada Allah dan rasul-Nya." Beliau ditanya, "Kemudian apa?" Maka beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Beliau ditanya, "Kemudian apa?" Maka beliau menjawab, "Haji mabrur."

Ya Allah, ambillah darahku pada hari ini sampai Engkau ridha.

Ya Allah, jadikanlah jasadku sebagai gunung api yang membakar tentara Nushairiyah dan orang-orang murtad.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan untuk jasadku kuburan yang menyatukan tulang belulangnya.

Ya Allah, terimalah aku dalam golongan syuhada' dan tinggikanlah derajatku bersama golongan para nabi.

Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita, Muhammad…"

(muhib almajdi/arrahmah.com)


17.11 | 0 komentar | Read More

Syamsudin, warga Poso: Saya dipukuli dan disetrum

Bilal

Senin, 7 Januari 2013 15:00:00

POSO (Arrahmah.com) - Syamsudin (32) mungkin tidak akan lupa bahwa tanggal 20 Desember telah menjadi hari kelam dalam hidupnya. Penjual Mie Ayam di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara itu menjadi korban salah tangkap pihak Brimob dalam aksi pengejaran pelaku penembakan terhadap dua anggota Brimob,. Tidak hanya itu, Syamsuddin pun mengalami siksaan berat selama proses penyelidikan.

Melalui testimoninya, kejadian ini berawal selepas dirinya mendirikan Shalat dzuhur dan bersiap jualan seperti hari biasanya. Tidak lama berselang, seorang petugas datang menghampiri dan mendobrak pintu rumahnya.

"Mereka masuk ke dalam rumah menendang pintu dan mengobrak- abrik isi kamar. Melihat perilaku petugas, istri saya tak senang kemudian berujar. 'Jangan tendang-tendang pintu Pak!'" tuturnya seperti dilansir islampos.

Tidak menerima perkataan sang istri, pihak aparat justru balik membentak. Petugas kemudian menyuruhnya tiarap hingga kemudian kedua tangannya diikat petugas ke belakang.

"Selanjutnya saya dibawa ke truk melewati pintu belakang rumah," imbuhnya yang mengaku diperintahkan tetap berdiri saat naik truk untuk dibawa ke Pos Kalora.

Ketika sampai di Pos itulah, Syamsudin mengaku mulai mendapat pukulan bertubi-tubi. Wajah, dada, dan perutnya  menjadi bulan-bulanan petugas yang mengiranya adalah bagian dari jaringan Poso yang terlihat dalam aksi penembakan. Padahal tuduhan itu ternyata tidak terbukti.

"Pukulan tersebut berkali-kali mendarat di wajah dan badan saya. Saat diintrogasi di pos polisi saya disuruh jongkok dengan mata tertutup," akunya.

Ketika polisi selesai 'menghadiahi' pukulan, Syamsuddin kemudian dibawa ke Polres Poso. Malang tak bisa ditolak, tampaknya Polisi belum merasa puas hingga Syamsuddin kembali mendapatkan tinjuan petugas. Bahkan penjual Mie ini mengaku sempat mendapat berbagai bentuk penyiksaan mengerikan dalam aksi salah tangkap itu.

"Saya disetrum, kaki saya diinjak kursi yang diduduki petugas. Hingga mereka memasukan moncong senjata ke dalam mulut saya dan mengancam akan menembak mati," imbuhnya yang kemudian melawati tiga malam dengan mata tertutup dan dipisahkan dalam ruangan tersendiri.

"Setelah masa penahanan 7 x 24 jam selesai, saya kemudian dibebaskan karena dianggap tak cukup bukti terkait keterlibatan terorisme," pungkasnya. (bilal/arrahmah.com)

Baca Juga:

17.11 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger